<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jundikecilku&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://jundikecilku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jundikecilku.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 Jan 2010 15:32:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jundikecilku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/30e50710e3278113bba77a9981b6815c?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Jundikecilku&#039;s Blog</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jundikecilku.wordpress.com/osd.xml" title="Jundikecilku&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jundikecilku.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>HADITS TENTANG PERINTAH SALING BERKASIH SAYANG SESAMA MUSLIM</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/hadits-tentang-perintah-saling-berkasih-sayang-sesama-muslim/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/hadits-tentang-perintah-saling-berkasih-sayang-sesama-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 14:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[(Ainur Rofiq el-Firdaus) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/hadits-tentang-perintah-saling-berkasih-sayang-sesama-muslim/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=149&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-149"></span>(Ainur Rofiq el-Firdaus)</p>
<p>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ (رواه مسلم/كتاب البر والصلاة)</p>
<p>Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: </p>
<p>“Janganlah saling menghasud, janganlah saling mengicuh, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi (berseteru), janganlah sebagian kamu menjual atas jualan sebagian yang lain, jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Muslim yang satu adalah saudara muslim yang lain, ia tidak boleh mendholiminya juga tidak boleh merendahkannya dan juga tidak boleh menghinanya. Taqwa itu di sini -beliau sambil berisyarat pada dadanya 3 kali-, cukuplah seseorang (dikatakan) berbuat jahat jika ia merendahkan saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain harom (terpelihara) darahnya, hartanya dan kehormatannya. (HR. Muslim dari Abu Huroiroh Rodliyallohu ‘anhu /bab berbuat baik dan silaturrohim).</p>
<p>Keterangan:<br />
Ada beberapa kelakuan buruk yang diperhatikan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam. agar kita semua menjauhinya. Di antaranya ialah:<br />
1.	Hasad, dengki atau irihati.<br />
2.	Mengicuh ialah mengatakan pada seseorang dengan harga tinggi atau mengatakan bahwa ia telah menawar sekian, tetapi belum diberikan. Padahal sebenarnya tidak dan berbuat sedemikian itu perlu menjerumuskan orang lain agar membeli dengan harga tinggi itu dan ia sendiri akan menerima keuntungan dari penjualannya itu.<br />
3.	Benci-membenci.<br />
4.	Seteru-menyeteru.<br />
5.	Menjual atas jualannya orang lain yakni seperti seorang pedagang yang berkata kepada seorang pembeli: &#8220;Jangan jadi beli di sana dan saya mempunyai barang yang mutunya lebih baik dan harganya lebih murah. Belilah kepada saya saja.&#8221; Demikian pula kalau ada seseorang yang berkata kepada seorang pedagang: &#8220;jangan jadi dijual pada si A itu dan saya suka membeli itu dengan harga yang lebih tinggi dari penawarannya.&#8221;</p>
<p>Semua itu dilarang oleh beliau shollallohu ‘alaihi wasallam. Tidak lain maksudnya agar kita sesama makhluk Allah ini dapat hidup rukun dan damai. Hal ini bukan hanya untuk antara seseorang dengan orang lain, tetapi juga antara satu golongan dengan golongan lainnya, dan juga satu bangsa dengan bangsa lainnya. Kalau saja ini dilaksanakan, rasanya tidak perlu lagi membicarakan bagaimana perdamaian dunia dapat diciptakan, sebab masing-masing dapat menghormati yang lainnya. </p>
<p>Jika ajaran di atas diperintah untuk semuanya, tanpa pandang bulu, suku bangsa, agama, faham pribadi dan lain-lain, maka yang di bawah ini ditekankan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, terutama sekali antara kita sesama ummat Islam, yaitu jangan sampai melakukan:</p>
<p>(a)	Menganiaya, lebih-lebih merampas hak sesama muslim.<br />
(b)	Membiarkan kawannya, padahal dia memerlukan pertolongan, nasihat dll.<br />
(c)	Mendustainya<br />
(d)	Dan Menghinanya.</p>
<p>Singkatnya, semua itu wajib didasarkan kepada taqwallah yang ditunjukkan oleh beliau shollallohu ‘alaihi wasallam. bahwa letak taqwa itu bukan di bibir, bukan dengan pernyataan terbuka atau tertulis, bukan dengan ucapan yang kosong melompong, tetapi letaknya ialah di dalam hati lalu dicetuskan dalam tindakan yang nyata. Oleh sebab itu dianggap demikian pentingnya, sehingga beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, mengucapkan taqwa tadi dengan menunjukkan letaknya yaitu di dalam dada atau hati dan itu diulanginya sampai tiga kali.</p>
<p>Akhirnya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, menegaskan bahwa seseorang itu cukup disebut orang jahat kalau sampai menghinakan sesama Muslimnya dengan cara apapun juga, seperti perkataan, isyarat tangan, cibiran bibir dan lain-lain ataupun dengan dalih atau alasan apapun.  </p>
<p>Juga antara seorang Muslim dengan Muslim lainnya itu sama sekali diharamkan mengalirkan darahnya, merampas haknya atau merusak kehormatannya. Kalau saja ajaran agama ini tidak dilaksanakan, mustahillah kalau ummat Islam akan dapat merebut kejayaannya sebagaimana nenek moyangnya dahulu. Bukan mustahil lagi, tetapi yakin akan dapat diperoleh. Hanya kepada Allohlah kita berlindung dan memohon pertolongan.</p>
<p>- والله أعلم -</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=149&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/hadits-tentang-perintah-saling-berkasih-sayang-sesama-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENJADI ORANG ASING DI DUNIA</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/menjadi-orang-asing-di-dunia/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/menjadi-orang-asing-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 14:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ * Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/menjadi-orang-asing-di-dunia/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=147&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-147"></span><br />
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ *<br />
Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)<br />
Penjelasan<br />
Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berisi nasihat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. Hadits ini dapat menghidupkan hati karena di dalamnya terdapat peringatan untuk menjauhkan diri dari tipuan dunia, masa muda, masa sehat, umur dan sebagainya.<br />
Ibnu Umar berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku”, hal ini menunjukkan perhatian yang besar pada beliau, dan saat itu umur beliau masih 12 tahun. Ibnu Umar berkata: “beliau pernah memegang kedua pundakku”. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau penyeberang jalan”. Jika manusia mau memahami hadits ini maka di dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai dengan realita. Sesungguhnya manusia (Adam –pent) memulai kehidupannya di surga kemudian diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya orang asing. Padahal sebenarnya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keikhlasan pada Alloh adalah surga. Sesungguhnya Adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Jika engkau mau merenungkan hal ini, maka engkau akan berkesimpulan bahwa seorang muslim yang hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya dan mendidiknya dengan prinsip bahwa sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga, bukan di dunia ini. Dia berada pada tempat yang penuh cobaan di dunia ini, dia hanya seorang asing atau musafir sebagaimana yang disabdakan oleh Al Musthofa shalallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
Betapa indah perkataan Ibnu Qoyyim rohimahulloh ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang muslim sekarang adalah tawanan musuh-musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena iblis telah menawan bapak kita, Adam ‘alaihissalam dan dia melihat, apakah dia akan dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak.<br />
Demikianlah, hal ini menjadikan hati senantiasa bertaubat dan tawadhu kepada Alloh jalla wa ‘ala. Yaitu orang yang hati mereka senantiasa bergantung pada Alloh, baik dalam kecintaan, harapan, rasa cemas, dan ketaatan. Hati mereka pun selalu terkait dengan negeri yang penuh dengan kemuliaan yaitu surga. Mereka mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di depan mata mereka. Mereka berada di dunia seperti orang asing atau musafir. Orang yang berada pada kondisi seakan-akan mereka adalah orang asing atau musafir tidak akan merasa senang dengan kondisinya sekarang. Karena orang asing tidak akan merasa senang kecuali setelah berada di tengah-tengah keluarganya. Sedangkan musafir akan senantiasa mempercepat perjalanan agar urusannya segera selesai.<br />
Demikianlah hakikat dunia. Nabi Adam telah menjalani masa hidupnya. Kemudian disusul oleh Nabi Nuh yang hidup selama 1000 tahun dan berdakwah pada kaumnya selama 950 tahun,<br />
“Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun” (QS Al Ankabut: 14)<br />
Kemudian zaman beliau selesai dan telah berlalu. Kemudian ada lagi sebuah kaum yang hidup selama beberapa ratus tahun kemudian zaman mereka berlalu. Kemudian setelah mereka, ada lagi kaum yang hidup selama 100 tahun, 80 tahun, 40 tahun 50 tahun dan seterusnya.<br />
Hakikat mereka adalah seperti orang asing atau musafir. Mereka datang ke dunia kemudian mereka pergi meninggalkannya. Kematian akan menimpa setiap orang. Oleh karena itu setiap orang wajib untuk memberikan perhatian pada dirinya. Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini, kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Jika Alloh memberi nikmat padamu sehingga engkau bisa memahami hakikat dunia ini, bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hatimu akan menjadi sehat. Adapun jika engkau lalai tentang hakikat ini maka kematian dapat menimpa hatimu. Semoga Alloh menyadarkan kita semua dari segala bentuk kelalaian.<br />
Kemudian Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhuma melanjutkan dengan berwasiat,<br />
“Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada pagi hari jangan menunggu datangnya sore.”<br />
Yaitu hendaklah Anda senantiasa waspada dengan kematian yang datang secara tiba-tiba. Hendaklah Anda senantiasa siap dengan datangnya kematian. Disebutkan dari para ulama salaf dan ulama hadits bahwa jika seseorang diberi tahu bahwa kematian akan datang kepadanya malam ini, maka belum tentu dia dapat menambah amal kebaikannya.<br />
Jika seseorang diberi tahu bahwa kematian akan datang kepadanya malam ini, maka belum tentu dia dapat menambah amal kebaikannya. Hal ini dapat terjadi dengan senantiasa mengingat hak Alloh. Jika dia beribadah, maka dia telah menunaikan hak Alloh dan ikhlas dalam beribadah hanya untuk Robbnya. Jika dia memberi nafkah pada keluarganya, maka dia melakukannya dengan ikhlas dan sesuai dengan syariat. Jika dia berjual beli, maka dia akan melakukan dengan ikhlas dan senantiasa berharap untuk mendapatkan rezeki yang halal. Demikianlah, setiap kegiatan yang dia lakukan, senantiasa dilandasi oleh ilmu. Ini adalah keutamaan orang yang memiliki ilmu, jika mereka bertindak dan berbuat sesuatu maka dia akan senantiasa melandasinya dengan hukum syariat. Jika mereka berbuat dosa dan kesalahan, maka dengan segera mereka akan memohon ampunan. Maka dia akan seperti orang yang tidak berdosa setelah beristigfar. Ini adalah kedudukan mereka. Oleh karena itu Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhuma mengatakan:<br />
“Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=147&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/menjadi-orang-asing-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MELURUSKAN KEMBALI HAKIKAT MAULID NABI</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/meluruskan-kembali-hakikat-maulid-nabi/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/meluruskan-kembali-hakikat-maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 14:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sunnah dan Bid&#039;ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[(Ainur Rofiq el-Firdaus) Senin, 9 Maret 2009 yang lalu hampir seluruh Umat Islam di segenap penjuru bumi serentak merayakan peringatan Maulid Nabi karena bertepatan dengan kelahiran Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam (12 Robi’ul Awal). Suatu acara yang telah dianggap sakral oleh segenap muslimin sebagai ritual yang seakan-akan tidak boleh ditinggalkan dan sekaligus menjadi pengakuan diri sebagai <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/meluruskan-kembali-hakikat-maulid-nabi/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=145&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-145"></span>(Ainur Rofiq el-Firdaus)</p>
<p>Senin, 9 Maret 2009 yang lalu hampir seluruh Umat Islam di segenap penjuru bumi serentak merayakan peringatan Maulid Nabi karena bertepatan dengan kelahiran Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam (12 Robi’ul Awal). Suatu acara yang telah dianggap sakral oleh segenap muslimin sebagai ritual yang seakan-akan tidak boleh ditinggalkan dan sekaligus menjadi pengakuan diri sebagai muslim yang “ta’at dan cinta” pada Rosululloh. Bahkan muncul perasaan berdosa jika tidak memperingatinya.<br />
Maka tidaklah mengherankan kalau perhelatan tersebut selalu diwarnai oleh insiden berdarah. Di India misalnya, ketika belasan orang meninggal dalam konvoi perayaan, begitu juga di belahan bumi islam lainnya. Padahal tahun-tahun yang lalu, kondisi yang sama juga terjadi di Pakistan. Lebih dari 30 jiwa melayang, ketika sebagian besar wanita dan anak-anak harus meninggal terinjak-injak, serta 70 orang lebih dalam kondisi kritis saat berdesak-desakan ikut memperingati maulud Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Dan banyak lagi fenomena yang akan terus berulang dari tahun-ketahun sehingga ratusan bahkan ribuan nyawa melayang sia-sia demi “cinta” mereka pada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.<br />
Di Indonesia lain lagi, perayaan Maulid berlangsung dengan berbagai macam ritual. Mulai dari pembacaan dan melagukan qosidah barjanzi di masjid atau di musholla dengan berbagai macam hidangan hingga perayaan besar-besaran seperti halnya perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hal ini dilakukan dengan keyakinan bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad maka kelak akan mendapatkan syafaat (pertolongan)nya di hari kiamat, dan hidangan yang dikeluarkan pada hari itu dianggap sebagai shodaqoh fi-sabilillah.<br />
Namun sayang sekali keyakinan tentang hal tersebut tidak berdasar sama sekali. Dan hanya didasarkan dari hadits-hadits maudlu’ (palsu) yang konon dapat menghancurkan aqidah umat Islam. Apalagi ini diperparah dengan kegigihan para ulama’ dalam menyebarkan dan mendakwahkan keyakinan yang salah ini.<br />
Maka berbagai fenomena di atas menimbulkan pertanyaan; “Apakah harus dengan cara tersebut kita membuktikan cinta pada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam ???</p>
<p>APAKAH MEMPERINGATI MAULID NABI MENJADI BUKTI CINTA KITA PADA NABI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM?</p>
<p>Hakikat cinta sebenarnya adalah mau menuruti segala apa yang diminta oleh orang yang kita cinta, bukan hanya memberi kata puja dan rayu. Cinta pada Rosululloh, berarti kita mau menuruti dan bersemangat untuk melakukan sunnah-sunnahnya serta menjauhi apa yang dilarangnya. Adapun membaca dan melantunkan “Sholawat” pada Rosul Shollahu ‘alaihi wa sallam belum menjamin kalau kita cinta padanya. Namun harus lebih dibuktikan dengan sejauh mana sunnah dan ajarannya dapat kita laksanakan. Sebab Islam bukan hanya terpaku pada tataran teoritis, namun juga implementatif. Karena islam sebagai perwujudan dari iman yang telah diikrarkan.<br />
Alloh Ta’ala berfirman:<br />
<br />
“Apa yang datang dari Rosululloh, ambillah. Dan apa yang dilarang Rosululloh, jauhilah”.(al Hasyr/59:7). </p>
<p>Selanjutnya Alloh Ta’ala juga berfirman,<br />
 “Katakanlah, jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku (Muhammad). Maka Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, Dan Alloh Maha Pengampun lagi penyayang” (Ali Imron: 31). </p>
<p>Ibnu Katsir menafsirkan: “ فَاتَّبِعُونِي (ikutilah aku)”, adalah mengikuti dan menjalankan syariat dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam (perkataan, perbuatan dan yang ditetapkan beliau)”, selanjutnya sabda Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar dariku, maka amalan tersebut tertolak /tidak diterima” (H.R. Bukhori). </p>
<p>Ayat dan hadits tersebut sudah sangat jelas bahwa persyaratan muthlak untuk mendapatkan cinta Alloh Ta’ala adalah kita terlebih dahulu harus mencintai Rosululloh dengan cara mengikuti dan menjalankan sunnah-sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi perkara yang tidak pernah diperintah oleh beliau.<br />
	Suatu hal yang tidak bisa kita pungkiri adalah munculnya pemahaman yang keliru di kalangan umat Islam dalam memahami dan mengaplikasikan perwujudan cinta pada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam. Ada yang memahaminya dengan membacakan pujian-pujian setinggi langit pada Nabi (padahal nabi sendiri melarang memujinya secara berlebihan seperti orang Yahudi dan Nasrani memuji nabinya), ada juga yang menggelar perayaan/pesta mulai yang sederhana sampai yang mewah, ada juga yang harus merayakan maulid nabi dengan ritual-ritual tertentu menurut kebudayaan dan kebiasaan masing-masing kelompok dan aliran di masing-masing wilayah tanpa memperhatikan hal tersebut dibenarkan agama atau tidak. Atau bahkan dengan biaya yang tidak sedikit.<br />
Dan menjadi sangat ironis sekali setelah merayakan maulid nabi, praktek-praktek kesyirikan kembali merajalela (dari yang bekedok pengobatan sampai yang terang-terangan yakni meminta dan menyembah kepada selain Alloh Ta’ala), serta semakin ramainya praktek-praktek syari’at dan ajaran yang tidak diajarkan Alloh dan RosulNya.<br />
Perlu dicatat di sini, bahwa para sahabat adalah orang yang paling cinta pada Rosululloh Shollallohu a’laihi wasallam. Seandainya peringatan itu diajarkan, tentunya mereka akan memperingati HUT manusia terbaik di muka bumi ini. Sedangkan selama ini tidak pernah ada satupun dalil shohih yang mengindikasikan sahabat maupun tabi’in yang melakukan ritual ini. Karena munculnya perayaan ini baru ada pada abad ke-4 H, yakni ritual kaum syi’ah Rofidho pada kholifah daulah bani Fatimiyah. Wallohul Musta’an… </p>
<p>BAGAIMANA MEMBUKTIKAN CINTA PADA ROSULULLOH ???</p>
<p>1.	Mempelajari dan memahami as Sunnah dari hadits-hadits yang shohih</p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (QS. Ali Imron: 102)</p>
<p>Catatan: Bertakwa harus dengan ilmu yang benar, yakni yang bersumber dari al Qur’an dan Hadits-hadits yang shohih.</p>
<p>2.	Menerima Islam dan ajaran yang di bawa Rosululloh secara kaffah/menyeluruh. Firman Alloh Ta’ala:</p>
<p>	“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan” (al Baqoroh: 208).</p>
<p>3.	Tidak pilih-pilih dalam menerapkan ajaran Rosululloh, dalam hal yang paling kecil sampai yang besar mengenai tata cara Rosul dalam beribadah dan bermu’amalah. Firman Alloh Ta’ala (QS. Al Ahzab/33:36): </p>
<p>“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.</p>
<p>4.	Senantiasa menghidupkan sunnah-sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, meski dengan kondisi masyarakat yang rusak aqidah dan akhlaqnya, kemudian kita dianggap orang yang asing. Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam<br />
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ<br />
“Islam datang dengan keadaan asing, dan pergi dengan asing pula. Maka beruntunglah menjadi orang-orang yang asing” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)</p>
<p>Beliau menambahkan:<br />
الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي<br />
“Yaitu orang-orang yang membagusi (menghidup-hidupkan) sunnahku tatkala rusaknya manusia yang hidup setelahku” (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin Auf bin Yazid)</p>
<p>5.	Menjauhi dan meninggalkan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan Rosululloh. Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam dari Jabir</p>
<p>وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ<br />
“Jauhilah olehmu perkara baru yang diada-adakan (dalam agama), sesungguhnya perkara baru yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Nasa’I dari Irbad)</p>
<p>Akhirnya, Kita berdo’a pada Alloh Ta’ala agar dimasukkan dalam golongan hambanya yang asing yang senantiasa mengamalkan ajaran dan sunnah-sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam dan kita berlindung pada Alloh Ta’ala dari batilnya kaum yang sesat dan menyesatkan.</p>
<p>- Wallohu Waliyyut Taufiq -</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=145&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/meluruskan-kembali-hakikat-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM DAN ADAB ZIARAH KUBUR BAGI WANITA</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/hukum-dan-adab-ziarah-kubur-bagi-wanita/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/hukum-dan-adab-ziarah-kubur-bagi-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 14:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum-hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[(Ainur Rofiq el-Firdaus) Ziarah kubur merupakan perkara yang disyariatkan dalam agama kita dengan tujuan agar orang yang melakukannya dapat mengambil pelajaran dengannya dan dapat mengingat akhirat. Syaratnya adalah dengan tidak mengatakan di sisi kuburan tersebut ucapan-ucapan yang bisa membuat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala murka, seperti berdoa kepada si penghuni kuburan, memohon syafaat (pertolongan) kepadanya, memberi <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/hukum-dan-adab-ziarah-kubur-bagi-wanita/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=142&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-142"></span>(Ainur Rofiq el-Firdaus)</p>
<p>Ziarah kubur merupakan perkara yang disyariatkan dalam agama kita dengan tujuan agar orang yang melakukannya dapat mengambil pelajaran dengannya dan dapat mengingat akhirat. Syaratnya adalah dengan tidak mengatakan di sisi kuburan tersebut ucapan-ucapan yang bisa membuat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala murka, seperti berdoa kepada si penghuni kuburan, memohon syafaat (pertolongan) kepadanya, memberi tazkiyah (jaminan) kepada penghuni kuburan, dan memastikan dia masuk Surga atau sejenisnya. (Ahkamul Janaiz halaman 227)</p>
<p>Sebelum kita berbicara tentang adab ziarah kubur bagi wanita, terlebih dahulu perlu sekali kita tahu hukumnya. Boleh atau tidak? Sebab tidak ada gunannya kita berbicara tentang adab bagi wanita kalau ternyata hukum syariat tidak membolehkannya</p>
<p>BOLEHNYA ZIARAH KUBUR<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda: </p>
<p>نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً (رواه أبو داود عن بريدة)<br />
“Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian. Karena ziarah kubur akan mengingatkan kepada akhirat.(HR. Abu Dawud dari Buraidah)</p>
<p>وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا (رواه الترمذي عن بريدة)<br />
&#8220;Aku melarang kalian berziaroh kubur, maka barangsiapa yang ingin berziarah silakan berziarah dan janganlah kalian mengatakan perkataan yang bathil (hujran) (HR. Tirmidzi dari Buraidah)</p>
<p>Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Majmu 5/310 “Hujran” artinya ucapan yang bathil. Larangan pertama (untuk ziarah kubur, pent.) karena masih barunya mereka meninggalkan kejahiliyahan dan mungkin karena mereka suka mengatakan ucapan jahiliyah. Maka ketika telah kokoh dasar-dasar Islam, kuat hukum-hukumnya, dan menyebar tanda-tandanya, dibolehkan berziarah bagi mereka. Tidak diragukan lagi bahwa apa yang dilakukan orang-orang awam dan selainnya ketika berziarah dengan berdoa kepada si mayit, beristighatsah (minta pertolongan) kepadanya, dan meminta kepada Allah dengan haknya mayit adalah ucapan bathil (hujran) yang paling besar. </p>
<p>Maka wajib bagi ulama untuk menjelaskan hukum tentang itu. Juga menjelaskan cara ziarah yang sesuai dengan syariat kepada mereka dan tujuan ziarah itu.  Demikian yang ditegaskan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Ahkamul Janaiz halaman 227</p>
<p>Imam Shan&#8217;ani rahimahullah menyatakan dalam Subulus Salam 2/162 setelah menyebutkan hadits-hadits tentang ziarah dan hikmahnya : Semuanya menunjukkan disyariatkannya ziarah kubur dan menerangkan hikmahnya yaitu “untuk mengambil pelajaran”. Dan jika kosong dari hal ini (maka) tidak terpenuhi tujuan syariat. Sebenarnya masih banyak lagi hadits tentang ziarah kubur namun kami cukupkan penyebutan 3 hadits di atas</p>
<p>Wanita Sama Dengan Pria Dalam dibolehkannya Ziarah Kubur<br />
Tentang persamaan hukum ziarah kubur antara wanita dan pria ini, Asy Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Ahkamul Janaiz halaman 229 menyatakan : [Itu karena beberapa bentuk atau sisi )<br />
Pertama, karena keumuman perintah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : "maka berziarahlah kalian ke kubur". wanita juga termasuk di dalamnya. Penjelasannnya, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tatkala melarang ziarah kubur pada awalnya tidak diragukan lagi bahwa larangan itu juga mencakup pria dan wanita sekaligus. Maka ketika beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Aku dulu melarang kalian berziarah ke kubur”. Dipahami bahwa yang dimaukan beliau adalah jenis pria dan wanita secara pasti. Dan beliau memberikan khabar kepada mereka tentang awal kejadian dengan melarang pria dan wanita. Jika perkaranya demikian, maka pasti ucapan kedua (yakni pembolehan) juga mencakup jenis pria dan wanita. Dan yang menguatkan pendapat ini adalah lanjutan dari hadits tersebut yang diriwayatkan oleh Muslim, yaitu : Dulu aku melarang kalian tentang daging sembelihan yang lewat tiga hari maka peganglah apa-apa yang tampak pada kalian. Dulu aku juga melarang nabidz untuk diminum maka minumlah sekarang semuanya dan jangan meminum yang memabukkan. Saya (Al Albani) katakan : Ucapan semua ini juga berlaku terhadap dua jenis (yakni pria dan wanita) secara pasti, sebagaimana ucapan pertama : Dulu aku melarang kalian.  Jika ada yang berkata, ucapan dalam kalimat sekarang berziarahlah adalah khusus untuk pria maka akan rusak susunan bahasa dan keindahannya. Juga tidak pantas hal itu ditujukan kepada pemilik ucapan (Jawamiul Kalim) yang singkat padat ini. (Jawamiul Kalim yakni Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam).</p>
<p>Kedua, saling berserikatnya para wanita dengan pria dalam illat (penyebabnya) yang karena itu disyariatkan ziarah kubur yaitu dalam riwayat : Karena ziarah kubur bisa melunakkan hati, meneteskan air mata, dan mengingatkan kepada akhirat.</p>
<p>Ketiga, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam membolehkan bagi wanita untuk berziarah ke kuburan.<br />
Dalam dua hadits yang dihapal oleh Ummul Mukminin Aisyah radliyallahu 'anha disebutkan dari Abdullah bin Abi Mulaikah ia berkata : </p>
<p>"Sesungguhnya Aisyah pulang dari pekuburan pada suatu hari. Maka aku bertanya kepadanya : Wahai Ummul Mukminin, darimanakah engkau? Ia menjawab : Dari kuburan Abdurrahman bin Abi Bakar. Maka aku katakan kepadanya : Bukankah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melarang ziarah kubur? Ia menjawab : Benar, tapi kemudian beliau menyuruh berziarah ke kubur".<br />
(HR. Hakim, Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Majah, dan Ibnu Abi Dunya. Al Hakim mendiamkan hadits ini. Adz Dzahabi berkata shahih, Al Bushiri berkata dalam Az Zawaid 1/988 : Sanadnya shahih, rijalnya tsiqat. Saya (Al Albani) berkata : Hadits ini keadaannya memang seperti yang mereka berdua katakan)</p>
<p>Dari Muhammad bin Qais bin Makramah bin Al Muththalib, ia berkata pada suatu hari : "Maukah kalian kuceritakan tentangku dan tentang ibuku? Maka kami mengira dia memaksudkan ibu yang melahirkannya. Dia berkata : Aisyah pernah berkata : Maukah kalian aku ceritakan tentangku dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam?  Maka kami menjawab : Tentu. Aisyah lalu berkata : Ketika pada malam giliranku, beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ada bersamaku. Beliau berbalik meletakkan selendang dan melepaskan dua sandalnya serta meletakkannya di bawah kakinya. Kemudian membentangkan ujung sarungnya di atas tempat tidur. Lalu berbaring. Tidak berapa lama setelah itu beliau mengira aku telah tidur. Maka beliau memakai selendang dan sandalnya secara pelan-pelan. Setelah itu beliau membuka pintu dan menutupnya kembali dengan pelan. Maka akupun melepas pakaian rumah dan memakai tutup kepala serta bertopeng dengan sarungku. Lalu pergi membuntuti beliau sampai tiba di Baqi. Beliau tegak dengan lama di tempat itu dan mengangkat kedua tangannya tiga kali. Kemudian beliau berpaling (berbalik untuk kembali ke rumah), akupun berpaling. Beliau berjalan cepat, aku juga berjalan cepat. Beliau berlari, aku juga berlari. Hingga beliau akan sampai (ke rumah), aku juga demikian. Maka akupun mendahului beliau lalu masuk ke rumah dan berbaring. Kemudian beliau masuk dan berkata : Ada apa denganmu, wahai Aisyah? Seakan-akan isi perutmu terangkat karena berlari cepat? Aku menjawab : Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah. Beliau berkata : Engkau katakan atau Allah yang akan menceritakan sebenarnya kepadaku. Aku berkata : Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku.  Maka aku ceritakan kejadiannya. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berkata:  Berarti engkau benda hitam yang kulihat di depanku tadi? Aku menjawab : Benar. Maka beliau memukul dadaku dengan pukulan yang menyakitkanku, lalu beliau bersabda : Apakah engkau mengira Allah akan berbuat aniaya kepadamu dan Rasul-Nya juga berbuat demikian?  Aku berkata : Bagaimanapun disembunyikan oleh manusia akan diketahui juga oleh Allah.  Beliau berkata : Jibril mendatangiku kemudian memanggilku maka aku menjawabnya. Dan dia tidak mau masuk karena ada engkau karena engkau sudah melepas pakaianmu. Aku mengira engkau telah tidur dan aku tidak suka membangunkanmu. Aku khawatir engkau merasa tidak senang. Maka Jibril berkata : Sesungguhnya Rabbmu menyuruhmu datang ke penghuni Baqi  dan memohonkan ampun untuk mereka. Aku (Aisyah) berkata : Apa yang harus aku ucapkan kepada mereka (penghuni kuburan) wahai Rasulullah?  Beliau menjawab : Katakanlah : "Semoga keselamatan tercurah bagi para penghuni kuburan ini dari kalangan Mukminin dan Muslimin. Dan semoga Allah merahmati orang yang terdahulu dan orang yang belakangan dari kita. Dan kami Insya Allah akan menyusul kalian". (HR. Muslim, An Nasai, Abdurrazzaq, dan Ahmad)</p>
<p>Hadits ini dijadikan dalil oleh Al Hafidh dalam At Talkhish 5/248 tentang bolehnya berziarah bagi wanita. Dan ini adalah dhahir hadits. Hadits ini menguatkan pendapat bahwasanya rukhshah untuk berziarah kubur setelah sebelumnya dilarang juga mencakup para wanita. Dan kisah itu terjadi di Madinah karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah tinggal bersama Aisyah. Sedangkan larangan ziarah kubur terjadi ketika masih di Makkah. Kita tetap menegaskan hal ini walau kita tidak tahu sejarah yang menguatkannya karena kesimpulan yang benar menguatkan hal tersebut yaitu ucapan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : Dulu aku melarang kalian. Sabda Nabi ini tidak bisa dipahami bahwa larangan ziarah kubur ditetapkan di Madinah bukan di Makkah yang memang di sana kebanyakan yang disyariatkan adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan tauhid dan akidah.<br />
Dan larangan ziarah ketika itu adalah untuk menutup pintu bahaya (saddudz dzariah) menuju kesyirikan dan jelas dicetuskan ketika periode Mekkah sebab para shahabat baru meninggalkan jahiliyah dan baru masuk Islam. Hingga ketika tauhid telah kokoh di dalam hati-hati mereka dan setelah mereka tahu jenis-jenis syirik yang mengakibatkan kerusakan tauhid maka setelah itu beliaupun membolehkan ziarah kubur. Adapun kalau beliau membiarkan mereka selama periode Makkah dalam kebiasaan mereka berziarah kemudian beliau melarang mereka untuk melakukan hal itu di Madinah maka ini jauh sekali dari hikmah syariat. Oleh karena itu kita menetapkan bahwa larangan tersebut dilontarkan ketika masih di Makkah. Jika demikian maka ijin beliau kepada Aisyah untuk berziarah di Madinah adalah dalil yang jelas tentang apa yang kita sebutkan.</p>
<p>Perhatikanlah, karena hal itu membuat sesuatu dalam hati. Dan saya (Al Albani) belum melihat ada yang mensyarah seperti ini. Jika saya benar itu dari Allah, jika salah dari diriku.<br />
Keempat, ucapan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kepada seorang wanita yang beliau lihat berada di sisi kuburan, dalam hadits Anas radliyallahu 'anhu :</p>
<p>“Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah melewati seorang wanita yang menangis di sisi kuburan maka beliau bersabda : Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah \'85 .” (HR. Bukhari dan lain-lain)</p>
<p>Al Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari : Sisi yang dijadikan argumen dari hadits ini adalah beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak mengingkari duduknya wanita tersebut di sisi kuburan dan ucapan beliau adalah hujjah.<br />
Dalam Al Umdah 3/76, Al Aini rahimahullah berkata : Dalam hadits ini ada pembolehan ziarah kubur secara mutlak. Sama saja apakah yang berziarah pria atau wanita dan apakah yang diziarahi Muslim atau kafir. Karena tidak adanya pemisahan dalam hal itu. Al Hafidh juga menyebutkan demikian di akhir ucapannya tentang hadits di atas.</p>
<p>Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwasanya Jumhur berpendapat boleh yakni ziarah kubur bagi wanita. Pengarang Al Hawi (Abul Hasan Al Mawardi rahimahullah) berkata : Tidak boleh menziarahi kuburan orang kafir.  Dan ini adalah pendapat yang salah. (Ahkamul Janaiz halaman 229-234)</p>
<p>Syaikh Mushthafa Al Adawi hafidhahullah dalam Jami Ahkamin Nisa setelah membawakan alasan kedua belah pihak (yang melarang dan yang membolehkan ziarah kubur bagi wanita) berkata : [ Kesimpulan dalam hal ini --dan ilmunya hanya pada Allah-- dan melihat dalil-dalil yang membolehkan dan melarang adalah kita berpendapat sebagai berikut<br />
Pertama: Hadits-hadits yang membolehkan lebih shahih daripada hadits-hadits yang melarang. Dan tidak ada hadits yang kuat dalam melarang kecuali hadits : “Semoga Allah melaknat wanita-wanita yang sering ziarah kubur”.<br />
Kedua : Telah diterangkan bahwa lafadh zawwarat maknanya adalah wanita yang sering ziarah kubur, maka tidak termasuk di dalamnya wanita yang hanya berziarah sekali-kali.<br />
Ketiga : Hadits : Semoga Allah melaknat wanita-wanita yang sering ziarah kubur.  Disebutkan oleh sebagian ulama bahwa hadits ini telah mansukh (dihapus) dengan hadits : Dulu aku pernah melarang kalian berziarah ke kubur, sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur akan mengingatkan kepada akhirat. Dan wanita jelas juga butuh mengingat akhirat seperti pria.<br />
Keempat : Apa yang dipahami oleh Aisyah radliyallahu 'anha dan dia adalah seorang wanita --bahkan ibu para wanita dan ibu kita (kaum pria)-- yang perintah berkaitan dengan mereka (para wanita) juga menerangkan bahwa Rasulullah mengajarkan apa yang harus diucapkannya jika datang ke kuburan. Dan Aisyah sendiri juga berziarah ke kubur saudaranya. Semua ini menunjukkan bolehnya seorang wanita berziarah ke kubur dan ini menguatkan pendapat yang membolehkan itu. Wallahu A'lam. ] (Jami Ahkamin Nisa 1/580)</p>
<p>LARANGAN BAGI WANITA UNTUK SERING-SERING BERZIARAH<br />
Syaikh Al Albani menyebutkan : [Akan tetapi tidak boleh bagi para wanita untuk sering-sering berziarah kubur karena itu akan membawa kepada hal-hal yang melanggar syariat, seperti : Berteriak-teriak, tabaruj, menjadikan kubur sebagai tempat pertemuan, dan menyia-nyiakan waktu dengan ucapan-ucapan yang sia-sia sebagaimana tampak pada hari ini di sebagian negeri kaum Muslimin. </p>
<p>Insya Allah inilah yang dimaukan dalam hadits yang masyhur : "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam (dalam riwayat lain : Allah) melaknat wanita-wanita yang sering berziarah ke kubur". (Hadits ini diriwayatkan dari beberapa shahabat seperti Abu Hurairah, Hasan bin Tsabit, dan Abdullah bin Abbas radliyallahu 'anhum. Diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lain-lain. Imam Tirmidzi rahimahullah berkata : Hadits ini hasan shahih. </p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa ini sebelum dibolehkannya berziarah oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Ketika ziarah kubur telah diperbolehkan maka masuk dalam kebolehan itu pria dan wanita. Sebagian mereka (ulama) berkata bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memakruhkan wanita untuk berziarah karena kurangnya kesabaran mereka dan sukanya mereka berkeluh kesah. Setelah Syaikh Al Albani rahimahullah membahas tentang lafadh  dan  beliau berkata : [Dari takhrij hadits jelas bahwa yang lebih kuat adalah lafadh  (yakni wanita yang sering ziarah).</p>
<p>Jika masalahnya demikian, lafadh ini (wanita yang sering ziarah) menunjukkan bahwa yang dilaknat hanyalah wanita yang banyak ziarah sedangkan wanita yang tidak sering ziarah tidak terkena laknat. Maka tidak boleh hadits yang khusus ini membantah hadits-hadits umum yang menunjukkan disunnahkannya ziarah kubur bagi wanita. Masing-masing dari hadits-hadits tersebut diamalkan pada tempatnya. Cara penjamaan (dikompromikan) ini lebih bagus daripada cara naskh (penghapusan salah satunya), dengan cara seperti ini segolongan ulama berpendapat. </p>
<p>Imam Qurthubi rahimahullah berkata : Laknat yang tersebut dalam hadits adalah bagi wanita yang sering berziarah larena bentuk katanya demikian. Mungkin sebab yang membawa ke sana adalah wanita itu akan menyia-nyiakan hak suami dan bertabaruj serta timbulnya suara jeritan dan sejenisnya. Ada yang berkata : Jika telah aman semua itu, tidak ada halangan untuk mengijinkan mereka karena mengingat mati dibutuhkan oleh pria dan wanita. Dalam Nailul Authar 4/95 Imam As Syaukani rahimahullah berkata : Dan ini adalah ucapan yang pantas untuk dijadikan pegangan di dalam mengkompromikan hadits-hadits yang bertentangan dalam bab ini secara dhahirnya. (Ahkamul Janaiz 235-237)</p>
<p>Telah berkata Syaikh Mushthafa Al Adawi hafidhahullah : Perhatikan :<br />
1.	Jika diketahui dari keadaan para wanita kalau mereka pergi ke kubur akan berteriak-teriak, meratap-ratap, dan melakukan bid’ah dan keharaman maka haram ketika itu bagi mereka untuk berziarah ke kubur. Menolak bahaya lebih didahulukan daripada mendapatkan kebaikan.<br />
2.	Jika diketahui dari keadaan mereka yang demikian itu bahwa kalau mereka pergi ziarah ke sebagian orang yang dianggap shalih dan wali Allah mereka akan melakukan permohonan untuk dihilangkan bahaya, menunaikan keperluan, dan menghilangkan kesusahan serta yang sejenisnya maka ini adalah syirik. Dan ketika itu diharamkan bagi para wanita untuk berziarah.<br />
3.	Jika para wanita pergi dengan tabaruj dan menggunakan parfum maka juga haram bagi mereka untuk keluar ziarah.<br />
4.	Jika para wanita mengkhususkan untuk berziarah ke kubur pada hari itu sebagaimana yang terjadi dengan mengkhususkan hari Jum’at dan hari-hari besar atau sejenisnya maka ini termasuk perkara/ibadah baru yang Allah tidak menurunkan keterangan atasnya. </p>
<p>Semoga Allah memberikan bimbingan untuk kita dalam mengikuti Al Quran dan Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. ] (Jami Ahkamin Nisa  1/581)</p>
<p>Dari keterangan-keterangan di atas jelas bagi kita bahwa dibolehkan bagi para wanita untuk ziarah kubur dengan adab-adab sebagai berikut :<br />
1.      Tidak sering-sering.<br />
2.      Tanpa bertabaruj.<br />
3.      Tidak mengeluarkan kata-kata yang salah, seperti meratap, menjerit-jerit, terlebih lagi melakukan kesyirikan seperti meminta kepada si mayit, beristighatsah kepadanya, minta syafaat kepadanya dan lain-lain.<br />
4.      Menunaikan adab seperti adab wanita Muslimah keluar rumah<br />
5.   Mengambil pelajaran dan untuk mengingat akhirat. Dan dibolehkan bagi wanita berziarah ke kuburan keluarganya yang kafir hanya untuk mengambil pelajaran dengan dalil dari Abu Hurairah radliyallahu &#8216;anhu bahwasanya Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam berziarah ke kubur ibunya. Kemudian beliau menangis dan tangisan itu membuat orang di sekitarnya ikut menangis. Beliau berkata : Aku memohon ijin kepada Allah untuk memohonkan ampunan bagi ibuku tapi Allah menolaknya. Dan aku meminta ijin untuk menziarahi kuburnya maka diijinkan. Berziarahlah kalian ke kubur, karena itu akan mengingatkan kepada mati (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, dan lain-lain)<br />
6.      Tidak melakukan perkara baru yang tidak diajarkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, seperti :<br />
a.	Berziarah dengan dikhususkan hari-harinya (seperti malam jum’at dan hari-hari besar)<br />
b.	Tegak di depan kubur dan meletakkan tangan seperti orang shalat kemudian duduk.<br />
c.	Tayammum untuk berziarah.<br />
d.	Membaca Al Fatihah untuk si mayit.<br />
e.	Membaca surat Yasin untuk si mayit.<br />
f.	Bertahlil ketika melewati kubur.<br />
g.	Kirim salam kepada Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam melalui orang yang berziarah ke kubur beliau.<br />
h.	Menghadiahkan pahala kepada si mayit.<br />
i.	Menghadiahkan pahala kepada Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam.<br />
j.	Dan lain-lain, yang jelas kalau tidak dicontohkan Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dalam ibadah jangan dilakukan.</p>
<p>7.    Jika menziarahi kuburan orang kafir jangan mengucapkan salam tapi memberikan kabar dengan neraka kepadanya. Dengan dalil sabda Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam :<br />
Di mana saja engkau melewati kuburan orang kafir berikan kabar gembira dengan neraka kepadanya. (Lihat As Shahihah : 18)</p>
<p>8.   Tidak berjalan di antara kuburan Muslim dengan memakai sandal berdasarkan hadits Basyir bin Khushashiyah yaitu ketika Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam melihat ada yang memakai sandal, beliau bersabda :</p>
<p>“Wahai yang memakai sandal lemparkanlah keduanya”,  Maka orang itu melihat, ketika dia tahu bahwa itu adalah Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dia lepaskan sandalnya dan melemparkan keduanya.” (HR. Ashhabus Sunan)</p>
<p>Al Hafidh berkata dalam Fathul Bari 3/160 : Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal. Ibnu Hazm telah melakukan keganjilan dengan menyatakan diharamkan berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal kulit, adapun yang selain itu boleh! Ini adalah kedangkalan berfikir (jumud) yang parah.  (Ahkamul Janaiz halaman 252)</p>
<p>TUJUAN ZIARAH KUBUR</p>
<p>Ziarah kubur memiliki dua tujuan, yaitu :<br />
1.	Penziarah mengambil manfaat dengan mengingat mati dan orang yang mati. Dan tempat mereka ke Surga atau ke neraka.<br />
2.	Si mayit mendapat kebaikan dengan perbuatan baik dan salam untuknya serta mendapat doa permohonan ampunan. Dan ini khusus untuk mayat yang Muslim. (Ahkamul Janaiz halaman 239)</p>
<p>DOA-DOA ZIARAH KUBUR<br />
Ada beberapa doa yang shahih yang dituntunkan untuk diucapkan ketika berziarah ke kubur, namun kami cukupkan dengan menyebutkan dua saja di antaranya :</p>
<p>السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ<br />
“Semoga keselamatan tercurah bagi kalian wahai penghuni kubur dari kaum Mukminin dan muslimin, dan sesungguhnya kami Insya Alloh akan menyusul kalian, kami minta ampun kepada Alloh untuk kami dan untuk kalian (HR. Tirmidzi)</p>
<p>السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ<br />
“Semoga keselamatan tercurah kepada penghuni kubur ini dari kalangan Mukminin dan Muslimin dan semoga Allah merahmati orang yang telah duluan dari kami dan yang belakangan dan kami insya Allah akan menyusul kalian.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>(Lihat Ahkamul Janaiz halaman 239-240)</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam Bis Shawab</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=142&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/hukum-dan-adab-ziarah-kubur-bagi-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAKNA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/makna-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/makna-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 14:05:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah &#8216;Alaihi Asholatu wa Sallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu Ajma&#8217;in. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu Ajma&#8217;in. As-Sunnah menurut bahasa adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk[1]. Sedangkan menurut ulama aqidah, <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/makna-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=139&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-139"></span>Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah &#8216;Alaihi Asholatu wa Sallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu Ajma&#8217;in. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu Ajma&#8217;in.<br />
As-Sunnah menurut bahasa adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk[1].<br />
Sedangkan menurut ulama aqidah, as-Sunnah adalah petun-juk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, I’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah as-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengiku-tinya akan dipuji dan orang-orang yang menyalahinya akan dicela.[2]<br />
Pengertian as-Sunnah menurut Ibnu Rajab al-Hanbaly Rahimahullah (wafat 795 H): â€œAs-Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa I’tiqad (keyakinan), perkataan dan perbuatan. Itulah as-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak menamakan as-Sunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al-Bashry (wafat th. 110 H), Imam al-Auza’iy (wafat th. 157 H) dan Imam Fudhail bin Iyadh (wafat th. 187 H). [3]<br />
Disebut al-Jamaâh, karena mereka bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para Imam (yang berpegang kepada) al-haq/kebenaran, tidak mau keluar dari jamaâh mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah.[4]<br />
Jama’ah menurut ulama ‘aqidah adalah generasi pertama dari umat ini, yaitu kalangan Shahabat, Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran.[5]<br />
Kata Imam Abu Syammah as-Syafi’i Rahimahullah (wafat th. 665 H): Perintah untuk berpegang kepada jama’ah, maksudnya ialah ber-pegang kepada kebenaran dan mengikutinya. Meskipun yang melaksanakan Sunnah itu sedikit dan yang menyalahinya banyak. Karena kebenaran itu apa yang dilaksanakan oleh jama’ah yang pertama, yaitu yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallamj dan para Shahabatnya tanpa melihat kepada orang-orang yang menyimpang (melakukan kebathilan) sesudah mereka.</p>
<p>Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu &#8216;anhu[6]:<br />
Artinya : Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian. [7]<br />
Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang mem-punyai sifat dan karakter mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid’ah dalam agama.<br />
Karena mereka adalah orang-orang yang ittiba’ (mengikuti) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan mengikuti Atsar (jejak Salaful Ummah), maka mereka juga disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar dan Ahlul Ittiba’. Di samping itu, mereka juga dikatakan sebagai ath-Thaifah al-Manshuurah (golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat), Ghuraba’ (orang asing).<br />
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]<br />
________<br />
Foote Note<br />
[1]. Lisanul (VI/399).<br />
[2]. Buhuuts fii Aqidah Ahlis Sunnah (hal. 16).<br />
[3]. Jaami Uluum wal Hikaam (hal. 495) oleh Ibnu Rajab, tahqiq dan ta’liq Thariq bin Awadhullah bin Muhammad, cet. II, Daar Ibnul Jauzy, th. 1420 H.<br />
[4]. Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jamaah fil Aqiidah.<br />
[5]. Syarah Khalil Hirras, hal. 61.<br />
[6]. Seorang Shahabat Nabi j, nama lengkapnya Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Habib al-Hadzali, Abu Abdirrahman, pimpinan Bani Zahrah. Beliau masuk Islam pada awal-awal Islam di Makkah, yaitu ketika Sa’id bin Zaid dan isterinya, Fathimah bintu Khaththab, masuk Islam. Beliau melakukan dua kali hijrah, mengalami shalat di dua kiblat, ikut serta dalam perang Badar dan perang lainnya. Beliau termasuk orang yang paling alim tentang al-Qur-an dan tafsirnya sebagai-mana telah diakui oleh Nabi diakui oleh Nabi. Beliau dikirim oleh Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu ke Kufah untuk mengajar kaum muslimin dan diutus oleh Utsman ke Madinah. Beliau Radhiyallahu &#8216;anhu wafat tahun 32 H. Lihat al-Ishaabah (II/368 no. 4954).<br />
[7]. Al-Baaits alaa Inkaaril Bida’wal Hawaadits hal. 91-92, tahqiq oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman, Syarah Ushuulil I’tiqaad karya al-Laalika-iy no. 160.</p>
<p>Tentang at-Thaifah al-Manshuurah, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>â€œArtinya : Senantiasa ada segolongan dari umatku yang selalu dalam kebenaran menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolongnya dan orang yang menye-lisihinya sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.  [8]</p>
<p>Tentang al-Ghuraba, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Artinya : Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagai-mana awalnya, maka beruntunglah bagi al-Ghuraba (orang-orang asing). [9]</p>
<p>Sedangkan makna al-Ghuraba’ adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu &#8216;anhu ketika Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam suatu hari menerangkan tentang makna dari al-Ghuraba, beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Artinya : Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya. [10]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersabda mengenai makna al-Ghuraba:</p>
<p>Artinya : Yaitu, orang-orang yang senantiasa memperbaiki (ummat) di tengah-tengah rusaknya manusia [11]</p>
<p>Dalam riwayat yang lain disebutkan: Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku (Sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) sesudah dirusak oleh manusia.  [12]</p>
<p>Ahlus Sunnah, at-Thaifah al-Manshurah dan al-Firqatun Najiyah semuanya disebut juga Ahlul Hadits. Penyebutan Ahlus Sunnah, at-Thaifah al-Manshurah dan al-Firqatun Najiyah dengan Ahlul Hadist suatu hal yang masyhur dan dikenal sejak generasi Salaf, karena penyebutan itu merupakan tuntutan nash dan sesuai dengan kondisi dan realitas yang ada. Hal ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari para Imam seperti, Abdullah Ibnul Mubarak, Ali Ibnul Madiiny, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhary, Ahmad bin Sinan dan yang lainnya, Rahimahullah[13].</p>
<p>Imam asy-Syafi’i [14] (wafat th. 204 H) Rahimahullah berkata: Apabila aku melihat seorang ahli hadits, seolah-olah aku melihat seorang dari Shahabat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran yang terbaik kepada mereka. Mereka telah menjaga pokok-pokok agama untuk kita dan wajib atas kita berterima kasih atas usaha mereka. [15]</p>
<p>Imam Ibnu Hazm az-Zhahiri (wafat th. 456 H) menjelaskan mengenai Ahlus Sunnah, Ahlus Sunnah yang kami sebutkan itu adalah Ahlul Haq, sedangkan selain mereka adalah Ahlul Bid’ah. Karena sesungguhnya Ahlus Sunnah itu adalah para Shahabat Radhiyallahu Ajma&#8217;in dan setiap orang yang mengikuti manhaj mereka dari para Tabi’in yang terpilih, kemudian Ash-habul Hadits dan yang mengikuti mereka dari ahli fiqih dari setiap generasi sampai pada masa kita ini serta orang-orang awam yang mengikuti mereka baik di timur maupun di barat. [16]</p>
<p>[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[8]. HR. Al-Bukhari (no. 3641) dan Muslim (no. 1037 (174)), dari Shahabat Muawiyah Radhiyallahu &#8216;anhu.<br />
[9]. HR. Muslim no. 145 dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu.<br />
[10]. HR. Ahmad (II/177, 222), Ibnu Wadhdhah no. 168. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad (VI/207 no. 6650). Lihat juga Bashaa-iru Dzawi Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajas Salaf hal. 125.<br />
[11]. HR. Abu Ja’far ath-Thahawy dalam Syarah Musykilul Atsaar (II/170 no. 689), al-Laalika-iy dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah no. 173 dari Shabahat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu &#8216;anhu. Hadits ini shahih li ghairihi karena ada beberapa syawahidnya. Lihat Syarah Musykiilul Atsaar (II/170-171) dan Silsilah Ahaadits as-Shahiihah no. 1273.<br />
[12]. HR. At-Tirmidzi no. 2630, beliau berkata, Hadits ini hasan shahih. Dari Shabahat Amr bin Auf Radhiyallahu &#8216;anhu.<br />
[13]. Sunan at-Tirmidzi, Kitaabul Fitan no. 2229. Lihat Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany Rahimahullah (I/539 no. 270) dan Ahlul Hadits Humuth Thaifah al-Manshurah karya Syaikh Dr. Rabi bin Hadi al-Madkhaly.<br />
[14]. Nama lengkap beliau, Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas al-Qurasyi asy-Syafii Rahimahullah, yang terkenal dengan sebutan Imam asy-Syafii, beliau punya hubungan nasab dengan anak paman Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, yang bertemu dengannya pada silsilah Abdi Manaf. Beliau dilahirkan tahun 150 H. Para ulama sepakat bahwa beliau adalah orang yang tsiqah, amanah, adil, zuhud, wara’, alim, faqih dan dermawan. Beliau wafat di Mesir th. 204 H dalam usia 54 tahun. Di antara kitab-kitab karya beliau adalah kitab al-Umm dalam bidang fiqih, ar-Risaalah dalam ushul fiqih dan lainnya. Lihat Siyar Alaamin Nubala (X/5-99). Untuk menge-tahui lebih jelas tentang manhaj Imam asy-Syafii dalam masalah aqidah dapat dilihat pada kitab Manhajul Imam asy-Syafii fii Itsbaatil Aqiidah karya Dr. Muham-mad bin Abdil Wahhab al-Aqiil, cet. I-1419 H, dalam dua jilid.<br />
[15]. Lihat Siyar alaamin Nubala (X/60).<br />
[16]. Al-Fishaal fil Milaal wal Ahwa wan Nihaal II/271-Daarul Jiil, Beirut</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=139&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/makna-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGAMBIL LAHIRIYAH AL-QUR&#8217;AN DAN AS-SUNNAH MERUPAKAN PRINSIP DASAR AHLUS SUNNAH WAL JAMA&#8217;AH</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/mengambil-lahiriyah-al-quran-dan-as-sunnah-merupakan-prinsip-dasar-ahlus-sunnah-wal-jamaah/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/mengambil-lahiriyah-al-quran-dan-as-sunnah-merupakan-prinsip-dasar-ahlus-sunnah-wal-jamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 14:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Mereka menjadikan keduanya ini sebagai dasar pertama bagi mereka, karena al-Qur’an dan as-Sunnah adalah satu-satunya sumber untuk mengambil atau mempelajari ‘aqidah Islam. Seorang muslim tidak boleh mengganti keduanya dengan yang lain. Oleh karena itu, apa yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah wajib diterima dan ditetapkan oleh seorang muslim dan apa yang dinafikan (ditolak) oleh <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/mengambil-lahiriyah-al-quran-dan-as-sunnah-merupakan-prinsip-dasar-ahlus-sunnah-wal-jamaah/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=137&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-137"></span>Mereka menjadikan keduanya ini sebagai dasar pertama bagi mereka, karena al-Qur’an dan as-Sunnah adalah satu-satunya sumber untuk mengambil atau mempelajari ‘aqidah Islam. Seorang muslim tidak boleh mengganti keduanya dengan yang lain. Oleh karena itu, apa yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah wajib diterima dan ditetapkan oleh seorang muslim dan apa yang dinafikan (ditolak) oleh keduanya, maka wajib bagi seorang muslim untuk menafikan dan menolaknya. Tidak ada hidayah dan kebaikan melainkan dengan cara berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.<br />
Allah Azza wa jalla berfirman.<br />
“Artinya : Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, maka tidak ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [Al-Ahzab: 36]<br />
Sikap orang yang beriman kepada Allah Azza wa jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus mendengar dan ta’at dan tidak boleh menolak apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Oleh karena itu Allah Azza wa jalla menyatakan, bahwasanya orang yang enggan dan menolak untuk mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dikatakan beriman.<br />
Allah Azza wa jalla berfirman<br />
“Artinya : Maka, demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [An-Nisaa’: 65]<br />
Allah Azza wa jalla juga memerintahkan orang-orang yang beriman untuk kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, manakala mereka berselisih, dalam menentukan jalan keluar dari apa yang mereka perselisihkan. Simaklah firman-Nya berikut ini:</p>
<p>“Artinya : ika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembali-kanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisaa’: 59]<br />
Imam ‘Atha’ Rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini: “Kembali kepada Allah maksudnya adalah, kembali kepada kitab Allah Azza wa jalla. Sedangkan kembali kepada Rasul maksudnya adalah kembali kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Hal ini ditafsirkan juga oleh Mujahid dan ulama Salaf lainnya.[1]</p>
<p>Hal yang paling besar yang membedakan antara Salaf dengan yang lain dari golongan pelaku bid’ah (ahli bid’ah) adalah, Salaf menghormati dan menjunjung tinggi Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sunnah bagi mereka adalah penjelas, penafsir dan pengurai al-Qur’an, baik dalam bidang aqidah maupun syari’ah. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil lahiriyah hadits, tidak mena’wilkan serta tidak menolaknya dengan argumentasi yang lemah, sebagaimana ahli kalam yang mengatakan, bahwa hadits-hadits itu adalah hadits-hadits Ahad yang tidak bisa untuk dijadikan sebagai dasar ilmu dan keyakinan.<br />
Imam asy-Syafi’i Rahimahullah melihat bahwa di dalam syari’ah, kedudukan as-Sunnah adalah seperti al-Qur’an. Apa yang ditetapkan dalam as-Sunnah adalah seperti apa yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan apa yang diharamkan oleh as-Sunnah sama dengan apa yang diharamkan dalam al-Qur’an. Sebabnya adalah karena keduanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. [2]</p>
<p>[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]<br />
________<br />
Foote Note<br />
[1]. Tafsiir Ibni Katsiir (I/568, cet. Daarus Salam)<br />
[2]. Lihat Manhajul Imam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (I/86).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=137&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/mengambil-lahiriyah-al-quran-dan-as-sunnah-merupakan-prinsip-dasar-ahlus-sunnah-wal-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONSISTEN DI ATAS MANHAJ SALAF</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/konsisten-di-atas-manhaj-salaf/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/konsisten-di-atas-manhaj-salaf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 14:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Allah swt berfirman. “Artinya : Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)” [Al-Ahzab : 23] Ayat diatas mecakup sifat-sifat dan karakter-karakter ahli tsabat (mereka yang <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/konsisten-di-atas-manhaj-salaf/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=132&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-132"></span><!--more-->Allah swt berfirman.<br />
“Artinya : Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)” [Al-Ahzab : 23]</p>
<p>Ayat diatas mecakup sifat-sifat dan karakter-karakter ahli tsabat (mereka yang konsisten diatas kebenaran). Tidak ada yang mereka inginkan/harapkan kecuali keridhaan Allah Ta’ala, tidak akan menggerakkan mereka perkataan atau isyarat kecuali bersumber dari syarat-syarat Allah Ta’ala  dan wahyuNya.</p>
<p>Sekalipun ayat ini mengkisahkan kepahlawanan sebagian Salafus Shalih, seperti Anas bin Nudhair serta para salaf lainnya, serta kesetiaan dan kebenaran mereka dalam menetapi janji kepada Allah Ta’ala, hanya saja ibrah/pelajaran itu diambil dari keumuman lafadz, dan bukan dari sebab nuzulnya sebagaimana hal ini ditetapkan oleh para ulama.</p>
<p>Dari sinilah, sesungguhnya ayat ini umum, untuk setiap orang yang ikhlas, yang benar, yang teguh diatas kebenaran bagaimanapun jua rintangan menghalanginya. Hati kecil mereka berkata : “Jika Engkau tidak murka kepadaku ya Allah, aku tidak akan peduli”.</p>
<p>Maka seorang mu’min yang benar, tidak ada yang diinginkannya dalam kehidupan dunia ini melainkan beramal untuk mendapatkan keridhaan Alloh Ta’ala dan menjauhi kemurkaanNya, melaksanakan sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam dan menjauhi bid’ah serta hal-hal yang mendekatkan kepadanya, melaksanakan janjinya kepada Alloh Ta’ala untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah di atas manhaj Salafus Shalih, baik aqidah, syari’at, ilmu, amal dan akhlak.</p>
<p>Sifat dan karakter orang-orang yang konsisten diatas kebenaran adalah :</p>
<p>[1]. Orang-Orang Yang Beriman</p>
<p>Yaitu orang-orang yang benar dalam keimanan mereka, bukan orang yang plin-plan. Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman dalam mensifati orang-orang munafik.</p>
<p>“Artinya : Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir) ; tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya” [An-Nisa : 143]</p>
<p>Orang yang plin-plan itu wajah dan keadaan mereka tidak diketahui, seperti seekor kambing yang kebingungan, terkadang berjalan ke arah sini dan terkadang pergi dari sini.<br />
Maka seorang mu’min yang benar, tidak mengenal sikap plin-plan dan tidak merubah sikapnya hanya karena dunia telah berubah. Karena : “Kebenaran itu jelas dan kebatilan itu samar”</p>
<p>Sikap konsekwen (tidak plin-plan) membutuhkan petunjuk dan bimbingan Alloh Ta’ala, dan tidak dapat dicapai hanya dengan angan-angan.</p>
<p>“Artinya : Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” [Al-Ankabut : 69]</p>
<p>[2]. Berpendirian Teguh</p>
<p>Yaitu mereka yang mempunyai kemauan kuat serta keteguhan hati. Teguh dalam berbagai keadaan seperti keteguhan gunung yang kokoh. Sungguh Allah Ta’ala telah memuji sikap ini dalam kitabNya dan sunah RasulNya[1]</p>
<p>[3]. Mereka Benar Dalam Menepati Janji.</p>
<p>Firman Allah swt</p>
<p>“Diantara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah”.</p>
<p>Mereka telah berjanji kepada Allah untuk teguh hingga mendapatkan kemenangan dan mati syahid. Demikian pula ahli ilmu/para ulama, mereka tetap teguh di medan ilmu dan dakwah, mereka tidak mundur dari aqidah, keimanan serta medan jihad, sekalipun banyak yang memusuhi serta sedikit yang menolong.</p>
<p>Termasuk sebagian dari tanda-tanda kematian yang jelek –kita berlindung kepada Alloh Ta’ala dari hal ini- adalah seseorang yang hidup dalam kebenaran selama 60 tahun kemudian terjerumus dalam kebatilan di akhir hayatnya. Kalaulah ia bersabar dan ditakdirkan baginya petunjuk tentulah ia akan sampai pada tujuannya, dan tidak akan terputus sebelum ajalnya tiba, serta tidak terputus sebelum (ia) memetik hasilnya.</p>
<p>[4]. Mereka Orang-Orang Yang Sabar</p>
<p>Diantara manusia ada yang belum meninggal dalam keadaan syahid di medan ilmu, atau di medan (jihad), tapi ia tetap teguh dengan janjinya dan nazarnya, sekalipun angin “fitnah” berhembus keras. Lalu bagaimana seorang yang teguh/kokoh dalam (manhaj) Salaf dan tidak mengganti dengan benih-benih khalaf (mereka yang tidak berpegang teguh pada manhaj Salaf) dituduh lari dari manhaj Salaf ? Ia dituduh berada diatas jalan yang salah, sedangkan ia tidak menjauh dari kebenaran[2] [2] yang ditetapkan Alloh Ta’ala dalam kitabNya, melalui lisan NabiNya, (tidak menjauh dari) jalan yang telah ditempuh oleh para Salaf, ulama dan imam-imam mereka, baik yang masih hidup saat ini ataupun yang telah tiada ; sekalipun godaan-godaan materi dan dunia (menggoda mereka) !!</p>
<p>Ya ; kami bersama Salaf –yang mereka itu benar dalam menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh Ta’ala- baik masalah aqidah, manhaj, iman, ilmu dan amal.</p>
<p>Kami bersama para Salaf pada zaman ini : Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnul Utsaimin, Muqbil Al-Wadi’i [3], yang menghabiskan umur mereka dalam tauhid, iman dan manhaj. Mereka tidak merubah, tidak mengganti, tidak plin-plan. Kami bersama mereka, karena mereka adalah “ Aimmatul Huda” (para pemimpin yang memberi petunjuk). Kami tidak akan mengganti atau berganti –insya Allah-, walaupun ada seseorang yang marah terhadap kami. Dan sekali-kali kami tidak meridhai seseorang berada dalam kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala selamanya. Dan akibat yang baik adalah bagi orang bertaqwa.</p>
<p>[Majalah Al-Ashalah, edisi 34, hal.7]</p>
<p>[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 16 Th III Ramadhan 1426H/ Oktober 2005M. Konsisten Diatas Manhaj Salaf oleh Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr rah.]</p>
<p>[1] Hendaknya anda melihat makalah saya (syaikh Musa Nashr) “Ar-Rujuluh Fil Kitab was Sunnah” (Keteguhan Dalam Prespektif Al-Qur’an dan Sunnah). (makalah ini belum kami terjemahkan, pent)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=132&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2010/01/12/konsisten-di-atas-manhaj-salaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAHAYA BID&#8217;AH</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/bahaya-bidah/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/bahaya-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:47:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sunnah dan Bid&#039;ah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Anggapan baik terhadap bid’ah berarti menganggap Islam seolah-olah belum ‎sempurna ‎ Syari’at islam telah sempurna, sehingga tidak memerlukan tambahan ataupun ‎pengurangan. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;Pada hari ini telah kusempurnakan ‎untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah ku ridhoi islam ‎sebagai agamamu.&#8221;( Qs. Al-Maidah: 3) Dan Nabi Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam tidaklah <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/bahaya-bidah/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=122&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anggapan baik terhadap bid’ah berarti menganggap Islam seolah-olah belum ‎sempurna ‎<span id="more-122"></span><br />
Syari’at islam telah sempurna, sehingga tidak memerlukan tambahan ataupun ‎pengurangan. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;Pada hari ini telah kusempurnakan ‎untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah ku ridhoi islam ‎sebagai agamamu.&#8221;( Qs. Al-Maidah: 3) Dan Nabi Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam tidaklah ‎wafat kecuali telah menjelaskan seluruh perkara dunia dan agama yang dibutuhkan. Jika ‎demuikian, maka maksud perkataan atau perbuatan bid’ah dari pelakunya adalah bahwa ‎agama ini seakan-akan belum sempurna, sehingga perlu untuk dilengkapi, sebab amalan ‎yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ‎Ta&#8217;ala belum terdapat di dalamnya.‎<br />
Ibnu Majisyun berkata : &#8220;Aku mendengar Imam malik berkata: &#8220;Barang siapa yang ‎membuat bid’ah dalam islam dan melihatnya sebagai suatu kebaikan, maka ‎Sesungguhnya dia telah menuduh bahwa Nabi Muhammad rtelah berkhianat, karena Allah ‎Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah berfirman Dalam Al-qur’an , &#8220;pada hari ini telah aku ‎sempurnakan bagimu agamu.&#8221; Maka apa yang pada hari itu tidak termasuk sebagai ‎agama maka pada hari inipun bukan termasuk Agama.&#8221;( Asy-syatibi dalam Al-I’tisam).‎<br />
Amalan bid’ah tertolak (tidak di terima oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala )‎<br />
Nabi Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam bersabda: &#8220;Barang siapa yang membuat hal yang baru ‎dalam urusan agama kami ini sesuatu yang tidak ada didalamnya, maka ia tertolak.&#8221; ‎‎(Bukhari Muslim)‎<br />
Sebagaimana maklum bahwa syarat di terimanya amalan adalah: ikhlas dan sesuai ‎dengan sunnah.‎<br />
Ikhlas semata-mata karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan pahala di ‎akhirat, bukan pujian atau balasan makhluk ataupun ucapan terima kasih yang ini adalah ‎merupakan kandungan syahadat La ilaaha illallah. Sesuai dengan sunnah yaitu sesuai ‎dengan perintah dan tuntunan Rasullullah Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam, bukan ‎berdasarkan hawa nafsu dan bid’ah yang diada-adakan, yang hal ini merupakan ‎kandungan syahadat Muhammad Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam. Dengan demikian amalan ‎bid’ah itu kehilangan syarat kedua, dari dua syarat di terimanya amal.‎<br />
Bid’ah…mengikuti hawa nafsu<br />
Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Thaimiyah: &#8220;para pelaku bid’ah adalah ‎orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan syubhat. Mereka mengikuti hawa nafsunya ‎dalam sesuatu yang di sukai dan di benci, mereka menetapkan hukum dengan prasangka ‎dan syubhat. Mereka mengikuti prasangka dan apa yang di inginkan nafsunya, padahal ‎telah datang petunjuk dari Tuhan Subhanahu wa Ta&#8217;ala mereka. Jika seseorang ‎menggunakan hawa nafsunya dalam masalah agama maka sungguh dia adalah orang ‎yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala : &#8220;Dan siapakah yang lebih sesat daripada ‎orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah. ‎‎&#8221;(Al-Qashash:50)‎<br />
Bid’ah lebih di cintai oleh iblis dari pada perbuatan maksiat<br />
Imam At-Tsauri rahimahullah berkata: &#8220;Bid’ah lebih di cintai oleh iblis dari pada perbuatan ‎maksiat, orang terkadang bertaubat dari maksiat tetapi seseorang sulit bertaubat dari ‎perbuatan bid’ahnya. Maksud perkataan Imam Ats-Tsauri rahimahullah itu di jelaskan oleh ‎Ibnu Thaimiyah sebagai berikut: (makna perkataan mereka para imam islam, seperti ‎Sufyan Ats-Tsauri dan lainnya) bahwa , amalan buruknya (yaitu bid’ah tersebut pent.) ‎telah di hias-hiasi oleh syaitan sehinggga ia melihatnya sebagai suatu kebaikan, karena ‎permulaan taubat adalah mengetahui perbuatannya itu buruk, sehingga ia bertaubat ‎darinya, atau bahwa ia telah meninggalkan suatu kebaikan yang di perintahkan secara ‎wajib atau tidak wajib, sehingga dia bertaubat dan mengerjakannya. Maka selama dia ‎melihat perbuatannya suatu kebaikan, padahal sebenarnya adalah suatu keburukan, ‎niscaya dia tidak akan bertaubat (Majmu’ fatawa X/9)‎<br />
Bid’ah melenyapkan Sunnah<br />
Seperti apa yang di katakan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu wa Anhu: &#8221; Tidaklah datang ‎suatu tahun pada Manusia melainkan mereka membuat bid’ah dan mematikan sunnah, ‎hingga bentuk-bentuk bid’ah menjadi hidup dan sunnah menjadi mati.&#8221;‎<br />
Hasan bin ‘Athiyyah : &#8220;Tidaklah suatu kaum membuat bid’ah dalam agama mereka ‎melainkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala akan mencabut dari mereka sunnah yang sepadan ‎dengan nya, kemudian tidak akan mengembalikan kepada mereka sampai hari kiamat.&#8221; ‎betapa indahnya yang dikatakan oleh sahabat agung Ibnu mas’ud Radhiallahu wa Anhu: ‎‎&#8221;Hendaklah kamu menghindari apa yang baru di buat Manusia dari bentuk-bentuk bid’ah. ‎Sebab agama tidak akan hilang dari hati seketika. Tetapi syaithan membuat bid’ah baru ‎untuknya, hingga iman keluar dari hati, dan hampir-hampir Manusia meninggalkan apa ‎yang telah di tetapkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada mereka berupa shalat, puasa, ‎halal dan haram, sementara mereka masih berbicara tentang Tuhan Yang Mahamulia. ‎Maka siapa yang mendapatkan masa itu hendaknya dia lari. &#8220;Ia di tanya, &#8220;Wahai Abu ‎Abdurrahman , kemana larinya ? &#8220;ia menjawab. &#8220;Tidak kemana-mana. Lari dengan hati ‎dan agamanya. Janganlah duduk besama-sama dengan ahli bid’ah.(Al-Hajjah I/312 oleh ‎Al-Ashbahani)‎<br />
Bid’ah termasuk sikap ghuluw (melampaui batas syari’at)‎<br />
Imam Al-Bukhari berkata dalam kitab shahihnya, Kitab Al-I’tisham bil kitab wa sunnah: ‎‎&#8221;Bab: Apa yang dilarang tentang berlebih-lebihan, perselisihan di dalam ilmu, ghuluw di ‎dalam agama dan bid’ah-bid’ah, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala : &#8221; Wahai ‎Ahli kitab janganlah kamu melampauibatas dalam agamamu, dan janganlah kamu ‎mengatakanterhadaap Allah kecuali yang benar.&#8221; (An-Nisa’:171)‎<br />
Bid’ah menyebabkan perpecahan<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;dan bahwa (yang kami peritahkan) ini adalah ‎jalanku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang ‎lain), karena jalan-jalan (subul) itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.&#8221;(Al-An’am ‎‎153)‎<br />
Imam Asy-Syathibi berkata: &#8220;sirhathal mustaqim (jalan yang lurus) adalah jalan Allah ‎yang dia serukan, yaitu As-Sunnah. Sedangkan As-Subul (jalan-jalan lain) adalah jalan-‎jalan orang-orang yang berselisih. Yang menyimpang dari jalan yang lurus. Mereka adalah ‎para ahli bid’ah&#8221;(Al-I’tisham I/76 tahqiq Syaikh Salim Al-Hilali)‎<br />
DR. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan menyatakan: &#8220;Dan sesunggunya ‎melakukan/membuat bid’ah di dalam agama akan menambah perpecahan di kalangan ‎ummat karena hal itu merupakan dasar yang menyelisihi agama, yang kita di larang ‎mengkutinya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala : &#8220;janganlah kamu ‎mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan (subul) itu mencerai beraikan kamu ‎dari jalanNya.&#8221;(Al-An’am 153) (Al-Madkhal lid dirasalah Al-‘aqidah ‘ala Madzhab Ahli ‎Sunnah Waljama’ah)‎<br />
BAHAYA BID’AH BAGI PELAKUNYA<br />
‎&gt; Amalan-amalannya tidak di terima<br />
terdapat beberapa nash yang menyatakan bahwa ibadah ahli bid’ah tidak di terima oleh ‎Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Diantarannya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala : ‎katakanlah: &#8220;Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orangyang paling ‎merugi perbuatannya. &#8220;yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ‎dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(Al-‎kahfi:103-104).‎<br />
Imam Ibnu Katsir berkata: &#8221; Karena Sesungguhnya ayat ini adalah makiyah (turun ‎sebelum peristiwa hijrah dari makkah ke madinah) , sebelum berbicara terhadap orang-‎orang yahudi dan nashara, dan sebelum adanya al-hawarij (kaum pertama pembuat ‎bid’ah) sama sekali. Sesungguhnya ayat ini umum meliputi setiap orang yang beribadah ‎kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dengan jalan yang tidak di ridhoi Allah Subhanahu wa ‎Ta&#8217;ala , dia menyangka bahwa dia telah berbuat benar didalam ibadah tersebut padahal ‎dia telah berbuat salah dan amalannya tertolak.&#8221; (Tafsir Al-Qur’annil Azhim)‎<br />
‎&gt; Pelaku bid’ah semakin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
Diriwayatkan dari Al-hasan bahwa dia berkata : &#8220;shahibu (pelaku) bid’ah, tidaklah dia ‎menambah kesungguhan, puasa, dan shalat, kecuali dia semakin jauh dari Allah ‎Subhanahu wa Ta&#8217;ala.‎<br />
Dan dari Ayyub As-Sikhtiyani, dia berkata: &#8220;tidaklah pelaku bid’ah menambah ‎kesungguhan kecuali dia semakin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala .&#8221; Pernyatan ‎tersebut diisyaratkan kebenarannya oleh sabda Rasulullah rtentang khawarij: &#8220;satu kaum ‎akan keluar di dalam ummat ini yang kamu meremehkan shalat kamu di bandingkan ‎dengan shalat mereka, mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongan ‎mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana melesatnya anak panah dari ‎sasarannya.&#8221;(HR. Bukhari)‎<br />
Asy-Syatibi berkata: &#8220;pertama beliau (Rasulullah Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam pent.) ‎menjelaskan tentang kesungguhan mereka, kemudian beliau menjelaskan tentang jaunya ‎mereka dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala .(Al-I’tisham I/156)‎<br />
‎&gt; Menangguh dosa bid’ah dan dosa-dosa orang yang mengamalkannya sampai ‎hari kiamat.‎<br />
Dalam hal ini Nabi Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam bersabda : &#8220;Barang siapa yang menyeru ‎kepada petunjuk , maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala yang ‎mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barang ‎siapa yang menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa-dosa orang-orang ‎yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.&#8221;(HR. Muslim)‎<br />
Sedangkan bid’ah merupakan kesesatan sebagaimana yang telah di katakan oleh ‎Rasulullah Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam. Inginkah ahli bid’ah menanggung seluruh dosa ‎orang-orang yang mengiutinya sampai hari kiamat?! Tidakkah hadis Rasulullah Shallallahu ‎‎&#8217;Alahi wa Sallam ini menghentikan mereka!?.‎<br />
‎&gt; Pelaku bid’ah memposisikan dirinya pada kedudukan menyerupai pembuat ‎syari’at<br />
Hal ini karena pembuat syari’at (Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala ) telah membuat peraturan-‎peraturan kemudian mewajibkan makhluk untuk melaksanakannya, sehingga dia sendirian ‎dalam hal ini. Dialah yang membuat keptutusan tentang apa yang di perselisihkan oleh ‎makhluk. Karena jika pembuatan peraturan-peraturan itu mampu di lakukan oleh ‎Manusia, niscaya agama yang berisi peraturan-peraturan itu tidak di turunkan oleh Allah, ‎para Rasul tidak perlu di utus, dan tidak ada lagi perselisihan di kalangan Manusia. maka ‎orang-orang yang mengadakan perkara-perkara baru di dalam agama Allah Subhanahu ‎wa Ta&#8217;ala itu berarti dia telah menempatkan dirinya sebanding dengan pembuat syari’at. ‎Yaitu dia membuat peraturan bersamaan dengan pembuat syari’at dan telah membuka ‎pintu perselisihan, serta menolak maksud atau tujuan pembuat syari’at di dalam ‎kesendiriannya dalam membuat syari’at (peraturan).(Al-I’tisham I/66)‎<br />
‎&gt; Pelaku bid’ah akan di usir dari telaga Rasululah Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam pada ‎hari kiamat<br />
Rasululah Shallallahu &#8216;Alahi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesung-guhnya aku mandahului dan ‎menanti kamu di telaga. Barang siapa yang melewatiku niscaya dia minum, dan barang ‎siapa yang minum niscaya dia tidak akan haus selama-lamanya. Sesungguhnya ‎sekelompok orang akan mendatangiku, aku mengenal mereka, dan mereka mengenalku, ‎kemudian dihalangi antara aku dengan mereka, maka aku berkata: &#8220;Sesungguhnya ‎mereka dari pengikutku&#8221; tetapi di jawab &#8220;Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa ‎yang mereka ada-adakan secara baru setelahmu.&#8221; Maka aku (Nabi Shallallahu &#8216;Alahi wa ‎Sallam) berkata: &#8220;jauh ! jauh!! Bagi orang-orang yang merubah agama setelahku.&#8221; (HR. ‎Bukhari -Muslim)‎<br />
‎&gt; Pelaku bid’ah diancam dengan laknat Allah‎<br />
Dari Ibrhahim At-taimi dia berkata: &#8220;Bapakku telah menceritakan kepadaku, dia berkata: ‎Ali Radhiallahu wa Anhu berkhutbah kepada kami di atas mimbar dari batu bata dan ‎beliau membawa sebuah pedang, yang pada pedang tersebut terdapat sebuah lembaran ‎yan tergantung, kemudian Ali berkata: &#8220;Demi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kami tidak ‎mempunyai kitab yang di baca kecuali kitab Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan apa yang ada ‎di lembaran ini.&#8221; Kemudian Ali membukanya, maka didalam lembaran itu tertulis:…maka ‎barang siapa yan membuat perkara-perkara baru (bid’ah) di madinah niscaya dia ‎mendapatkan laknat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, malaikat-malaikatnya dan seluruh ‎Manusia.&#8221; (Bukhari no. 7300 dan Muslim no. 1730).‎<br />
‎&gt; Pintu taubat hampir-hampir terkunci bagi shahibu (ahli) bid’ah<br />
Hal ini disebutkan dalam beberapa hadist antara lain: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ‎Ta&#8217;ala menghalangi taubat dari setiap shahibu bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya ‎‎(Shahih At-Tarhib I/97 dan Zhilalul Jannah : 21 oleh Imam Al-Albani). Sesungguhnya ahli ‎bid’ah tidak mendapakan taufik (bimbingan) untuk bertaubat. Sehingga taubat itu sama ‎sekali tidak terjadi pada mereka kecuali jika dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Ini ‎adalah makna yang benar, dan tidak ada keraguan padanya.Karena telah ditunjukkan oleh ‎Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan perkataan para salaf ini serta kenyataan para Ahli bid’ah ‎itu sendiri. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Hasan Al-Basri : &#8220;Allah ‎Subhanahu wa Ta&#8217;ala enggan mengizinkan taubat bagi Ahli bid’ah&#8221; (HR. Al-Lalikai).‎<br />
Maraji:<br />
Al-Ihtisham &#8211; Imam As-Syathibi<br />
Risalatul Bida’ &#8211; Syaikh Ali hasan Al-Halabi. ‎</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=122&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/bahaya-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KESALAHAN TENTANG PAKAIAN DALAM SHOLAT</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/kesalahan-tentang-pakaian-dalam-sholat/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/kesalahan-tentang-pakaian-dalam-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[kekeliruan-kekeliruan dalam sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ainur Rofiq el Firdaus ‎1.‎ Sholat dengan pakaian Isbal (di bawah mata kaki)‎ Sebuah kesalahan yang sangat sering dilakukan oleh kebanyakan orang adalah sholat ‎dengan memakai sarung atau celana yang musbil (melebihi mata kaki).‎ Dari Abu Huroiroh ra:‎ بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّي مُسْبِلًا إِزَارَهُ إِذْ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/kesalahan-tentang-pakaian-dalam-sholat/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=118&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ainur Rofiq el Firdaus</p>
<p>‎<strong>1.‎	Sholat dengan pakaian Isbal (di bawah mata kaki)‎</strong><br />
Sebuah kesalahan yang sangat sering dilakukan oleh kebanyakan orang adalah sholat ‎dengan memakai sarung atau celana yang musbil (melebihi mata kaki).‎<span id="more-118"></span></p>
<p>Dari Abu Huroiroh ra:‎</p>
<p>بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّي مُسْبِلًا إِزَارَهُ إِذْ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ ثُمَّ ‏قَالَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ أَمَرْتَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ فَقَالَ ‏إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لا يَقْبَلُ صَلاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ إِزَارَهُ ‏<br />
‎<em>“Ketika ada seorang yang sholat mengenakan sarung secara isbal, Rosululloh s  bersabda ‎kepadanya: “pergilah dan ambillah air wudlu”!! lelaki itupun pergi dan berwudlu lagi. Kemudian ‎dia kembali datang dan Rosululloh saw kembali bersabda: “Pergilah dan ambillah air wudhu”. ‎Kemudian seseorang bertanya pada Rosululloh: “Wahai Rosululloh apa yang membuatmu ‎memerintahkan dia berwudhu kembali??” lalu Beliau terdiam sejenak dan bersabda: ‎‎“Susungguhnya ia sholat sedang sarungnya isbal, sesungguhnya Alloh tidak menerima sholat ‎seseorang dengan sarung musbil (menurunkan sarungnya hingga di bawah mata kaki)</em> (HR. Abu ‎Dawud, Ahmad, Nasai, didlo’ifkan oleh albani dalam silsilah hadits dlo’if))‎</p>
<p>Dijelaskan juga bahwa “<em>ada tiga kelompok orang yang tidak diajak bicara dan tidak ‎dilihat oleh Alloh swt pada hari kiamat, tidak dibersihkan Alloh dan akan di adzab Alloh ‎dengan pedih. Yaitu: orang yang musbil dalam berpakaian, mengungkit-ungkit ‎pemberian dan menjual barangnya dengan sumpah palsu</em> (HR. Muslim, Abu Dawud, ‎Tirmidzi, Ibnu Majah)‎<br />
Rosululloh saw bersabda:‎<br />
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ ‏<br />
‎ “<em>Sarung yang melebihi batas mata kaki, maka pelakunya di Neraka”</em> (HR. Bukhori dari Abu ‎Huroiroh) ‎</p>
<p>Rosululloh saw bersabda:‎<br />
مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِي صَلاتِهِ خُيَلاءَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي حِلٍّ وَلا حَرَامٍ ‏<br />
‎<em>“Dan siapa saja yang memusbilkan sarungnya ketika sholat karena sombong, maka ia tidak ‎perlu lagi melakukan perbuatan halal dan harom di mata Alloh, artinya Alloh tidak peduli lagi ‎padanya </em>(HR. Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud)‎<br />
Dan masih banyak lagi hadits lain yang menujukkan larangan isbal di luar atau di ‎dalam sholat, baik dengan niat sombong ataupun tidak. Sebagaimana yang disebutkan ‎dalam hadits riwayat Abu Dawud dan ibnu Majah, bahwa sombong di sini adalah ketika ‎seseorang menurunkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki itu sendiri. ‎<br />
Dan semua ulama’ memberatkan masalah isbal ini. Maka hendaklah orang yang ‎sholat ataupun yang di luar sholat memperhatikan benar-benar keadaan pakaian yang ‎dikenakannya, jika pakaian itu terurai sampai ke bawah mata kaki (isbal) maka ‎hendaknya segera mungkin ia memotong dan mengangkatnya ke atas agar tidak ‎diklasifikasikan ke dalam kelompok yang sombong karena isbal. ‎<br />
Adapun hadits tentang Abu Bakar yang dijadikan sebagai dalil oleh yang ‎berpendapat bahwa menjulurkan pakaian  melebihi mata kaki diperbolehkan, maka ‎hendaklah dikatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang mempunyai pinggang kecil ‎sehingga meskipun ia sudah mengikatnya benar-benar, namun tetap melorot. Maka ‎Rosululloh S tidak memasukkan ia dalam golongan musbil. Lain halnya orang yang ‎menjulurkan pakaiannya dengan sengaja hingga di bawah mata kaki, maka ia termasuk ‎dalam ancaman Rosululloh S . ‎<br />
Maka setiap muslim harus menghindari isbal dan hendaknya itu didasarkan atas ‎ketakwaan kepada Alloh Ta&#8217;ala semata. Meninggikan pakaian bukanlah ciri-ciri dari ‎kelompok tertentu. Namun merupakan hal wajib yang mesti dilakukan oleh setiap ‎muslim yang taat pada Alloh dan Rosululloh. Firman Alloh ta’ala: ‎</p>
<p>وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ  ‏<br />
‎<em>“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, ‎apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan ‎‎(yang lain) tentang urusan mereka”.</em> (al Ahzab: 36))‎</p>
<p>Inilah nasihat yang sebenarnya dan murni karena dorongan hati sesama muslim, ‎meskipun hal ini tidak menyenangkan untuk didengar, sebab sudah terlalu banyak ‎penyimpangan yang dilakukan baik kaum pria dan wanita. Telah banyak kita saksikan ‎kaum pria yang memanjangkan celana dan sarungnya sementara kaum wanita malah ‎meminikan busana dan mengumbar kepala serta leher, mereka berpakaian yang ‎hakikatnya telanjang. Laa haula wala quwwata illa billah.‎</p>
<p><strong>‎2.‎	Sholat dengan pakaian yang bergambar</strong><br />
Dari Aisyah ra, diceritakan bahwa Rosululloh saw sholat dengan mengenakan ‎pakaian khomishah (jenis pakaian yang terbuat dari bulu) yang ada gambarnya, ketika ‎selesai sholat beliau bersabda: ‎</p>
<p>اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاتِي ‏<br />
‎“Bawalah pergi khomishohku ini pada Abu Jahm dan bawakan untukku anbijaniyah (jenis ‎pakaian yang tebal dan kasar), sebab khomishah tadi mengganggu konsentrasiku” (HR. Bukhori, ‎Nasa’I, Ibnu Majah dan Malik)‎</p>
<p>Dari Anas bin Malik ra: Aisyah memiliki kain tipis yang bergambar yang dibuat tutup/tabir ‎di samping rumahnya, lalu beliau minta kain tersebut dijauhkan darinya karena mengganggu ‎konsentrasinya dalam sholat. (HR. Bukhori)‎</p>
<p>Dua hadits di atas dimasukkan Bukhori dalam bab “Karohiyyatus sholati fit tashowir ‎‎(makruh sholat memakai baju bergambar). Dari dua hadits tersebut menjelaskan tentang ‎makruhnya sholat di tempat yang ada gambar sehingga menyibukkan dan mengganggu ‎konsentrasi sholat, seperti yang dilakukan Rosul yang menyuruh membawa pergi ‎sesuatu bergambar di area sholat. Apalagi dengan memakai pakaian yang bergambar, ‎tentu ini semakin memberatkan. ‎</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=118&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/kesalahan-tentang-pakaian-dalam-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERINTAH MENEGAKKAN SHOF /BARISAN  (MELURUSKAN, MERAPATKAN DAN MELEKATKANNYA)</title>
		<link>http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/perintah-menegakkan-shof-barisan-meluruskan-merapatkan-dan-melekatkannya/</link>
		<comments>http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/perintah-menegakkan-shof-barisan-meluruskan-merapatkan-dan-melekatkannya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:12:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jundikecilku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundikecilku.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Sudah merupakan kewajiban seorang imam sholat jama&#8217;ah, memberi komando/aba-aba kepada makmum untuk menegakkan shof (merapatkan, melekatkan, meluruskan shof). Karena baik dan rusaknya jama&#8217;ah sholat semua adalah tanggungan pemimpin sholat yaitu imam. Maka hendaklah seorang imam sebelum memulai takbir hendaknya menghadap jama&#8217;ah sambil memberi aba-aba: luruskan, rapatkan, maju, mundur dll. 1. Rosululloh menyuruh makmum agar  menegakkan <a href="http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/perintah-menegakkan-shof-barisan-meluruskan-merapatkan-dan-melekatkannya/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=115&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah merupakan kewajiban seorang imam sholat jama&#8217;ah, memberi komando/aba-aba kepada makmum untuk menegakkan shof (merapatkan, melekatkan, meluruskan shof).<span id="more-115"></span> Karena baik dan rusaknya jama&#8217;ah sholat semua adalah tanggungan pemimpin sholat yaitu imam. Maka hendaklah seorang imam sebelum memulai takbir hendaknya menghadap jama&#8217;ah sambil memberi aba-aba: luruskan, rapatkan, maju, mundur dll.</p>
<p><strong>1. Rosululloh menyuruh makmum agar  menegakkan shof/barisan jama’ah</strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثَلَاثًا وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ </strong></p>
<p>Rosululloh shollallohu &#8216;alaihi wasallam menghadapkan wajahnya kepada orang-orang sambil bersabda: <strong>&#8220;Tegakkanlah shof-shof kalian (3 X), demi Alloh sungguh kalian benar-benar menegakkan shof-shof kalian atau sungguh Alloh benar-benar akan memperselisihkan hati-hati kalian</strong>&#8220;. (HR. Abu Dawud, Kitab Sholat)</p>
<p style="text-align:right;"><strong>أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ إِقَامَةَ الصَّفِّ<br />
</strong></p>
<p>Rosululloh shollallohu &#8216;alaihi wasallam bersabda: tegakkanlah shof-shof kalian, karena sesungguhnya termasuk bagusnya sholat adalah menegakkan shof (HR. Abu Dawud dari Anas bin Malik).</p>
<p><strong>2. Umar bin Khoththob memberi tugas seseorang untuk membantu menegakkan shof jama’ah</strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>كَانَ يُوَكِّلُ رِجَالًا بِإِقَامَةِ الصُّفُوفِ فَلَا يُكَبِّرُ حَتَّى يُخْبَرَ أَنَّ الصُّفُوفَ قَدِ اسْتَوَتْ </strong></p>
<p><em>Dia (Umar) mewakilkan kepada orang-orang (bertugas) untuk menegakkan shof, dia tidak bertakbir sebelum diberitahu kepadanya bahwa shof telah lurus (HR. Tirmidzi)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>3. Para Tabi’in juga memerintahkan makmum agar menegakkan shof</strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>صَلَّى بِنَا أَبُو الْمَلِيحِ عَلَى جَنَازَةٍ فَظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ كَبَّرَ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَلْتَحْسُنْ شَفَاعَتُكُمْ</strong></p>
<p>Abu al Malih (Amir bin Usamah bin Umair, Tabi&#8217;in) sholat jenazah, beliau ketika akan bertakbir beliau menghadapkan wajahnya kepada kami sanbil berkata: &#8220;<strong>Tegakkanlah shof-shof kalian dan bagusilah do&#8217;a-doa kalian&#8221;</strong> (HR. Nasa&#8217;I, kitab Janaiz dari Abu Bakar al Farrukh))</p>
<p><strong>4. Hadits Anas bin Malik tentang perintah meluruskan, merapatkan dan melekatkan shof/Barisan</strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ<br />
</strong></p>
<p>Rosululloh shollallohu &#8216;alaihi wasallam bersabda: <strong>&#8220;Luruskanlah shof-shof kalian, seseungguhnya meluruskan shof  termasuk sempurnanya sholat</strong> (HR. Abu Dawud)<strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي </strong></p>
<p>Sholat akan didirikan, Rosululloh shollallohu &#8216;alaihi wasallam menghadapkan wajahnya kepada kami sambil bersabda: <strong>&#8220;Tegakkanlah dan rapatkan (lekatkan) shof-shof kalian,</strong> sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari belakang punggungku&#8221; (HR. Bukhori)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ (أبو داود)</strong></p>
<p>Rosululloh shollallohu &#8216;alaihi wasallam bersabda: <strong>&#8220;lekatkanlah shof-shof kalian, dan dekatkanlah di antaranya serta ratakanlah puundak-pundak kalian&#8221;</strong>. Demi Alloh yang jiwaku di tangannya sesungguhnya aku sungguh melihat syetan masuk dari sela-sela barisan seperti anak kambing hitam (Abu Dawud, Kitab Sholat)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SIFAT-SIFAT MENEGAKKAN SHOF/BARISAN</strong></p>
<p>Hadits Nu’man bin Basyir Rodliyallohu ‘anh</p>
<p style="text-align:right;"><strong>أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثَلَاثًا وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَلْزَقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ </strong></p>
<p>Rosululloh shollallohu &#8216;alaihi wasallam menghadapkan wajahnya kepada orang-orang sambil bersabda: &#8220;Tegakkanlah shof-shof kalian (3 X), demi Alloh sungguh kalian benar-benar menegakkan shof-shof kalian atau sungguh Alloh benar-benar akan memperselisihkan hati-hati kalian&#8221;. Nu&#8217;man berkata: lalu saya melihat orang-orang melekatkan pundaknya dengan pundak temannya, lututnya dengan lutut temannya serta mata kakinya dengan mata kaki temannya) (HR. Abu Dawud, Kitab Sholat, Shohih)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Keterangan</strong>: Sudah sangat jelas bahwa yang dimaksud dengan menegakkan shof adalah dengan melekatkan pundak dengan pundak teman, kaki dengan kaki teman, bahkan lutut dengan lutut teman.</p>
<p>Maka hendaknya para imam memperhatikan dan mengetahui sifat-sifat dan apa yang mesti di ucapkan/dikatakan ketika memberi komando pada makmum</p>
<p><strong>(Ditulis oleh Ainur Rofiq el Firdaus, diperkenankan untuk dishare, namun harus mencantumkan sumber, mudah-mudahan bermanfaat)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundikecilku.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundikecilku.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundikecilku.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundikecilku.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundikecilku.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundikecilku.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundikecilku.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundikecilku.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundikecilku.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundikecilku.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundikecilku.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundikecilku.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundikecilku.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundikecilku.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundikecilku.wordpress.com&amp;blog=10573182&amp;post=115&amp;subd=jundikecilku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundikecilku.wordpress.com/2009/12/04/perintah-menegakkan-shof-barisan-meluruskan-merapatkan-dan-melekatkannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9d29a461516927287af004623bab24d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundikecilku</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
