(Ainur Rofiq el-Firdaus)
Senin, 9 Maret 2009 yang lalu hampir seluruh Umat Islam di segenap penjuru bumi serentak merayakan peringatan Maulid Nabi karena bertepatan dengan kelahiran Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam (12 Robi’ul Awal). Suatu acara yang telah dianggap sakral oleh segenap muslimin sebagai ritual yang seakan-akan tidak boleh ditinggalkan dan sekaligus menjadi pengakuan diri sebagai muslim yang “ta’at dan cinta” pada Rosululloh. Bahkan muncul perasaan berdosa jika tidak memperingatinya.
Maka tidaklah mengherankan kalau perhelatan tersebut selalu diwarnai oleh insiden berdarah. Di India misalnya, ketika belasan orang meninggal dalam konvoi perayaan, begitu juga di belahan bumi islam lainnya. Padahal tahun-tahun yang lalu, kondisi yang sama juga terjadi di Pakistan. Lebih dari 30 jiwa melayang, ketika sebagian besar wanita dan anak-anak harus meninggal terinjak-injak, serta 70 orang lebih dalam kondisi kritis saat berdesak-desakan ikut memperingati maulud Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Dan banyak lagi fenomena yang akan terus berulang dari tahun-ketahun sehingga ratusan bahkan ribuan nyawa melayang sia-sia demi “cinta” mereka pada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.
Di Indonesia lain lagi, perayaan Maulid berlangsung dengan berbagai macam ritual. Mulai dari pembacaan dan melagukan qosidah barjanzi di masjid atau di musholla dengan berbagai macam hidangan hingga perayaan besar-besaran seperti halnya perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hal ini dilakukan dengan keyakinan bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad maka kelak akan mendapatkan syafaat (pertolongan)nya di hari kiamat, dan hidangan yang dikeluarkan pada hari itu dianggap sebagai shodaqoh fi-sabilillah.
Namun sayang sekali keyakinan tentang hal tersebut tidak berdasar sama sekali. Dan hanya didasarkan dari hadits-hadits maudlu’ (palsu) yang konon dapat menghancurkan aqidah umat Islam. Apalagi ini diperparah dengan kegigihan para ulama’ dalam menyebarkan dan mendakwahkan keyakinan yang salah ini.
Maka berbagai fenomena di atas menimbulkan pertanyaan; “Apakah harus dengan cara tersebut kita membuktikan cinta pada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam ???
APAKAH MEMPERINGATI MAULID NABI MENJADI BUKTI CINTA KITA PADA NABI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM?
Hakikat cinta sebenarnya adalah mau menuruti segala apa yang diminta oleh orang yang kita cinta, bukan hanya memberi kata puja dan rayu. Cinta pada Rosululloh, berarti kita mau menuruti dan bersemangat untuk melakukan sunnah-sunnahnya serta menjauhi apa yang dilarangnya. Adapun membaca dan melantunkan “Sholawat” pada Rosul Shollahu ‘alaihi wa sallam belum menjamin kalau kita cinta padanya. Namun harus lebih dibuktikan dengan sejauh mana sunnah dan ajarannya dapat kita laksanakan. Sebab Islam bukan hanya terpaku pada tataran teoritis, namun juga implementatif. Karena islam sebagai perwujudan dari iman yang telah diikrarkan.
Alloh Ta’ala berfirman:
“Apa yang datang dari Rosululloh, ambillah. Dan apa yang dilarang Rosululloh, jauhilah”.(al Hasyr/59:7).
Selanjutnya Alloh Ta’ala juga berfirman,
“Katakanlah, jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku (Muhammad). Maka Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, Dan Alloh Maha Pengampun lagi penyayang” (Ali Imron: 31).
Ibnu Katsir menafsirkan: “ فَاتَّبِعُونِي (ikutilah aku)”, adalah mengikuti dan menjalankan syariat dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam (perkataan, perbuatan dan yang ditetapkan beliau)”, selanjutnya sabda Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar dariku, maka amalan tersebut tertolak /tidak diterima” (H.R. Bukhori).
Ayat dan hadits tersebut sudah sangat jelas bahwa persyaratan muthlak untuk mendapatkan cinta Alloh Ta’ala adalah kita terlebih dahulu harus mencintai Rosululloh dengan cara mengikuti dan menjalankan sunnah-sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi perkara yang tidak pernah diperintah oleh beliau.
Suatu hal yang tidak bisa kita pungkiri adalah munculnya pemahaman yang keliru di kalangan umat Islam dalam memahami dan mengaplikasikan perwujudan cinta pada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam. Ada yang memahaminya dengan membacakan pujian-pujian setinggi langit pada Nabi (padahal nabi sendiri melarang memujinya secara berlebihan seperti orang Yahudi dan Nasrani memuji nabinya), ada juga yang menggelar perayaan/pesta mulai yang sederhana sampai yang mewah, ada juga yang harus merayakan maulid nabi dengan ritual-ritual tertentu menurut kebudayaan dan kebiasaan masing-masing kelompok dan aliran di masing-masing wilayah tanpa memperhatikan hal tersebut dibenarkan agama atau tidak. Atau bahkan dengan biaya yang tidak sedikit.
Dan menjadi sangat ironis sekali setelah merayakan maulid nabi, praktek-praktek kesyirikan kembali merajalela (dari yang bekedok pengobatan sampai yang terang-terangan yakni meminta dan menyembah kepada selain Alloh Ta’ala), serta semakin ramainya praktek-praktek syari’at dan ajaran yang tidak diajarkan Alloh dan RosulNya.
Perlu dicatat di sini, bahwa para sahabat adalah orang yang paling cinta pada Rosululloh Shollallohu a’laihi wasallam. Seandainya peringatan itu diajarkan, tentunya mereka akan memperingati HUT manusia terbaik di muka bumi ini. Sedangkan selama ini tidak pernah ada satupun dalil shohih yang mengindikasikan sahabat maupun tabi’in yang melakukan ritual ini. Karena munculnya perayaan ini baru ada pada abad ke-4 H, yakni ritual kaum syi’ah Rofidho pada kholifah daulah bani Fatimiyah. Wallohul Musta’an…
BAGAIMANA MEMBUKTIKAN CINTA PADA ROSULULLOH ???
1. Mempelajari dan memahami as Sunnah dari hadits-hadits yang shohih
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (QS. Ali Imron: 102)
Catatan: Bertakwa harus dengan ilmu yang benar, yakni yang bersumber dari al Qur’an dan Hadits-hadits yang shohih.
2. Menerima Islam dan ajaran yang di bawa Rosululloh secara kaffah/menyeluruh. Firman Alloh Ta’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan” (al Baqoroh: 208).
3. Tidak pilih-pilih dalam menerapkan ajaran Rosululloh, dalam hal yang paling kecil sampai yang besar mengenai tata cara Rosul dalam beribadah dan bermu’amalah. Firman Alloh Ta’ala (QS. Al Ahzab/33:36):
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.
4. Senantiasa menghidupkan sunnah-sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, meski dengan kondisi masyarakat yang rusak aqidah dan akhlaqnya, kemudian kita dianggap orang yang asing. Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dengan keadaan asing, dan pergi dengan asing pula. Maka beruntunglah menjadi orang-orang yang asing” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Beliau menambahkan:
الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي
“Yaitu orang-orang yang membagusi (menghidup-hidupkan) sunnahku tatkala rusaknya manusia yang hidup setelahku” (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin Auf bin Yazid)
5. Menjauhi dan meninggalkan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan Rosululloh. Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam dari Jabir
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Jauhilah olehmu perkara baru yang diada-adakan (dalam agama), sesungguhnya perkara baru yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Nasa’I dari Irbad)
Akhirnya, Kita berdo’a pada Alloh Ta’ala agar dimasukkan dalam golongan hambanya yang asing yang senantiasa mengamalkan ajaran dan sunnah-sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam dan kita berlindung pada Alloh Ta’ala dari batilnya kaum yang sesat dan menyesatkan.
- Wallohu Waliyyut Taufiq -
SocialVibe